Senin, 31 Oktober 2011

Konser Komunitas Country & Ballad Oktober 2011










Bulan Oktober 2011, mungkin tercatat sebagai bulan yang paling 'penuh konser' bagi Komunitas Country & ballad...Tercatat Konser Ary Juliyant Folklub tour yang kali ini bertajuk 'The Troubadour trail -2', berlangsung di 5 kota sejak bulan 24 Okt - Bukit Suroloyo, Kulonprogo Yogyakarta > 26 - Warung Tutug Oncom di Jl, Jawa Bandung > 27 - Roemah Koffie Bintaro Tangerang > 28 - Ruang Putih Jl Bungur Bandung > 29- 30 - Dies Natalies MAPAK ALAM UNPAS di Cikole Lembang > 31 siang - Jatinangor Sumedang > 31 malam - Monday Blues, Ruang Putih Bandung > Nov 1 siang - kampus UNPAS jl Setiabudhi Bandung > 1 malam - JAF Jatisura Jatiwangi > 2 - Desa Jatitujuh Majalengka > 3 siang - kampus ISI Solo > 4 - .Pada Tanggal 28 Oktober juga merupakan Konser Launching album 'REBOISASI JIWA' Klopass di Kebun Seni Bandung....

Egi Fedly,'masih adakah' live & recorded.wmv

Kamis, 20 Oktober 2011

Komunitas Country&Ballad di Braga Festival 2011

Ke ikut sertaan Komunitas Country&Ballad di Braga Festival tahun 2011 ini merupakan Penampilan pertama di ajang ini, tidakmain main, Komunitas Country&Ballad tak hanya mengisi acara yang berlangsung di gedung New Majestic saja, Pada malam hari di panggung bundar tampil Musikalisasi Puisi dari Anggie Sri Wilujeng, dengan membacakan puisi puisinya dan juga dimusikalisasi oleh Mukti Mukti, Ganjar Noor , Asep Doel dan Egi Fedly,  pada harinya dipanggung yang lain Sisca Guzhenk bersama Ary Tretura tampil menyuguhkan kolaborasi cantik, melalui Guzhenk dan Biola, Sementara Sehari sebelumnya Mukti Mukti memberikan penampilan Perfomance unik yang menghentak pengunjung, dengan Menyanyi dan Berdoa diatas atap Gedung Hotel....menjelang Matahari terbenam....

Tanggal 24 September 2011, merupakan hari terakhir dari rentetan acara yang berlangsung dalam Agenda rutin Braga Festival yang diselenggarakan disepanjang Jalan Braga Bandung dalam rangka memeriahkan ulang Tahun Kota Bandung. Kali ini Komunitas Country & Ballad yang biasa mengisi acara rutin bertajuk Bumi Sangkuriang Country&Ballad, di Bumi Sangkuriang sejak November 2010, mendapat kesempatan memeriahkan ajang Braga Festival ini.
Mengambil tempat di bekas gedung Bioskop DEWI atau yang juga dikenal sebagai Bioskop Mayestik pada tahun 1980an... dan saat ini bernama NEW MAJESTIC, Pentas Country&Ballad pun digelar,mulai sejak pukul 1 siang berlangsung hingga mendekati azan Magrib. Dipandu Mc Adew Habtsa yang tampl bergantian dengan Mukti Mukti dan Egi Fedly.
Penampilan Komunitas Country & Ballad berlangsung meriah, seluruh bangku penonton pun padat terisi bahkan menjelang sore, sebagian penonton duduk memenuhi lantai depan Panggung....Dengan Sound System tertata baik, satu persatu Kelompok naik keatas Panggung, mulai dari Yuki& G Brut, Kapak Ibrahim, Ganjar Noor, Ferry Curtis,Sunek,Ato Baramaen, Mukti Mukti, Egi Fedly, Rizal Abdulhadi,Ary Piul Tretura, Sapto Ajie, Galih, Tjermin, Laken, The Daltons,Mr Sonjaya tampil dengan warna musik masing masing, sebagian tampil berkolaborasi saling mengisi...memuaskan selera Penonton....


Agenda Oktober2011

AGENDA OKTOBER 2011

Senin, 03 Oktober 2011

HUT Jatiwangi Art Factory ke 6

Selamat Menulis dan Berhitung, Jatiwangi Art Factory








Hari ini, tanggal 27 September 2011, Jatiwangi Art Factory (JAF) genap berusia enam tahun. Sebuah perjalanan yang cukup panjang saya pikir, telah ditempuh oleh JAF dalam berkesenian secara khususnya dan berkehidupan bersama masyarakat Jatiwangi dan sekitarnya. Acara syukuran sore ini dimulai dengan diskusi di ruang Galeri JAF. Dihadiri oleh beberapa tokoh masyarakat dari berbagai desa di sekitar Jatiwangi, dari mulai Kepala Desa, guru sekolah dasar, serta beberapa seniman dari berbagai daerah seperti Cirebon, Indramayu, Bandung dan Yogyakarta.
Diskusi ini dibagi menjadi dua sesi yaitu sebelum waktu shalat magrhib dan sesudahnya. Dalam diskusi pertama, ada beberapa inti permasalahan yang bisa digaris bawahi, yaitu pentingnya budaya tulisan di dalam tubuh JAF sendiri yang selama ini lebih dominan dengan bahasa lisan, sebagai contoh dalam setiap Forum 27an. Hal ini menjadi sangat penting karena pada dasarnya daya ingat manusia sangat terbatas, setiap peristiwa, acara ataupun gagasan yang ada di JAF ini akan terus tersimpan rapi dalam sebuah tulisan yang selama ini masih perlu dikembangkan. “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”, satu kalimat dari Pramoedya Ananta Toer ini bisa menjadi penyemangat JAF untuk memulai budaya tulisan, karena kita semua tidak ingin apa yang telah kita lakukan memiliki nasib yang sama dengan dongeng-dongeng di masyarakat, suatu bentuk budaya lisan yang saya rasa telah jauh berubah dari cerita awalnya, terkikis waktu, diseka oleh zaman.

Selanjutnya ialah, bagaimana JAF ini bisa lebih banyak melibatkan desa-desa tetangganya dalam setiap acara, bukan hanya di desa Jatisura. Sejauh yang terlihat, sebenarnya JAF telah memulai upaya ini, seperti contoh dalam event Village Video Festifal, melibatkan masyarakat beberapa desa di sekitar Jatisura, seperti Burujul wetan, Leuweunggede serta Lodji. Tentu butuh proses untuk menjangkau wilayah berkesenian yang lebih luas lagi, sehingga JAF ini benar-benar bisa mencakup Jatiwangi secara keseluruhan sesuai dengan namanya (Jatiwangi Art Factory), atau bahkan Majalengka lebih luasnya lagi.



Makan bersama setelah diskusi dan pemotongan tumpeng.

Dalam sesi kedua diskusi, pembicaraan lebih banyak di utarakan oleh undangan yang baru tiba saat itu yaitu Kurator seni Asmudjo Jono Irianto dan seniman asal Yogyakarta, juga sebagai pendiri dan pengelola Rumah Seni Cemeti, Mella Jaarsma. Asmudjo memberikan beberapa masukan, diantaranya ialah membuat suatu proyek, yang dikerjakan oleh beberapa orang ahli dari berbagai disiplin ilmu, seperti desainer produk dan marketing, bukan hanya seniman. Asmudjo menekankan hal ini bertolak pada realita yang ada bahwasanya seniman belum tentu bisa menyelesaikan permasalahan secara langsung, tetap dibutuhkan kerjasama dengan ahli-ahli lainnya yang bersinggungan dengan hal praktis terutama, untuk membantu merealisasikan gagasan-gagasan seorang seniman. Lain halnya dengan Mella Jaarsma, ia lebih menanyakan hal yang saya pikir sederhana, namun cukup rumit untuk dijawab oleh JAF sendiri. Sebenarnya apa cita-cita JAF selama ini? Banyak. Itu salah satu jawaban dari JAF sendiri. Mengingat kembali tujuan awal kita berjalan akan sangat penting untuk menentukan setiap langkah demi langkah yang akan kita tempuh. Dengan itu, setiap langkah tersebut akan tetap terukur, tidak keluar jalur apalagi tersesat di tengah jalan.

Setelah acara diskusi, dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Loranita Theo, direktur JAF saat ini, serta pertunjukan musik dan pembacaan puisi di mini stage JAF. Tedi En, Rizal Abdulhadi, Kang Mukti dan Edy Fadli tampil membawakan beberapa lagu dengan iringan gitar akustik dan alat musik tradisional, selain itu beberapa musisi dari Mexico dan Chile yang juga turut serta memeriahkan acara ini.

Layaknya seorang manusia, sampai usia yang ke-6 ini JAF telah banyak bermain dengan warna, bidang dan betuk. Ketika menginjak usia ke-7, harus mulai belajar membaca, menulis dan berhitung dengan lengkap, yaitu menambah, mengurangi, mengkali serta berbagi. Kalimat inilah yang diutarakan oleh JAF sendiri dan saya pikir menjadi benang merah forum 27an ini. Selamat ulang tahun yang ke-6 untuk Jatiwangi Art Factory, semoga senantiasa diberikan kekuatan untuk berkesenian dan menghasilkan karya-karya terbaiknya.

-Asep Topan, 28 september 2011.
Foto: Dokumentasi Egi Fedly

Rabu, 14 September 2011

NGAREWONG



SEMACAM IKHTISAR ALBUM KECIL ADEW HABTSA DAN KAPAK IBRAHIM “MERAYAKAN PERDAMAIAN”

"Dan saya minta kepada Tuan-tuan, janganlah hendaknya melihat kolonialisme dalam bentuk klasiknya saja, seperti yang kita di Indonesia dan saudara-saudara kita di berbagai wilayah Asia-Afrika mengenalnya. Kolonialisme mempunyai juga baju modern, dalam bentuk penguasaan ekonomi, penguasaan intelektuil, penguasaan materiil yang nyata, dilakukan oleh sekumpulan kecil orang-orang asing yang tinggal di tengah rakyat...
Dimana, bilamana dan bagaimanapun ia muncul, kolonialisme adalah hal yang jahat, yang harus dilenyapkan dari muka bumi."
( Pidato Pembukaan Konperensi AA, 18 April 1955, di Gedung Merdeka )

Itulah petikan pidato Bung Karno mengawali album kecil Adew Habtsa&Kapak Ibrahim, bertajuk “Merayakan Perdamaian”, terdiri dari tujuh lagu dan tiga petikan pidato Bung Karno mewarnai album ini. Dan juga pembacaan puisi oleh Noel Saga, dua judul saja, “Kepada Cak Roes” dan “Istana Bogor”. Adapun petikan pidato yang kedua terpapar jelas pada bagian akhri lagu “Bandung” yang ingin menjelaskan bagaimana spirit Bandung belumlah mati dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa-bangsa kulit berwarna dari penjajahan. Jika memang seluruh bangsa-bangsa Asia Afrika bersatu. Wajar bila PM Nehru menyebut Bandung sebagai kota Asia Afrika. Inilah petikan pidato Bung Karno, ketika Indonesia merdeka masih dalam benak dan pengharapan Bung Karno,jauh sebelum tercetus adanya Konperensi Bandung, BungKarno sudah membuat tulisan, seperti petikannya berikut ini.

" Kalau Barong Liong Sai dari China bekerjasama dengan Sapi Nandi dari India, dengan Spinx dari Mesir dengan Buruk Merak dari Birma, dengan Gajah Putih dari Siam, dengan Ular Hidra dari Vietnam, dengan Harimau dari Filipina dan dengan Banteng dari Indonesia, maka pasti hancur lebur kolonialisme internasional..."
(petikan tulisan Bung Karno, tahun 1932/1933, di Penjara Suka Miskin)

Album musik ini tercipta begitu cepat, satu tahun lamanya, atas berkat rahmat Tuhan YME dan juga didorong oleh itikad yang penuh, dimulai dari pengumpulan materi lagu sampai masuk studio rekaman hingga peluncuran, semua lagu dan puisi terpantik dari buku karya Roeslan Abdulgani tentang latar belakang berlangsungnya Konperensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955, buku tersebut berjudul The Bandung Connection, ditulis tahun 1980. Pendiskusian yang intens rupanya telah memberikan hasil untuk memberikan impresi dan catatan berarti pada acara yang bernama Tadarusan Buku “The Bandung Connection” sepanjang pertengahan 2010 sampai menjelang 2011 di Museum Konperensi Asia Afrika bersama komunitas Asian African Reading Club alias jemaat Al Asia Afrikaiyah.

Dari buku tersebut penulis Cak Roeslan seakan ingin menjelaskan pada sidang pembaca bahwa bersatunya bangsa-bangsa kulit berwarna menjadi kemestian untuk menggapai kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik dalam kerangka memajukan perdamaian dan pergaulan internasional. Pada sisi yang lain,nilai dan semangat KAA telah mendorong Adew Habtsa untuk membuat syair atau puisi yang erat kaitannya dengan pemaknaan kembali spirit Bandung. Satu karya diantaranya adalah penguatan semangat hidup berdampingan dengan damai (peacepul co-existence) yang sebelumnya pada album ini diawali nukilan pidato Bung Karno pada saat pembukaan Konperensi Bandung 1955, judul lagu tersebut adalah "damai". Berikut petikan pidato
"Seperti perdamaian, kemerdekaan tidak dapat dibagi-bagi... Perdamaian perlu untuk kita, karena pecahnya pertempuran di bagian dunia kita yang kita tempati ini akan membahayakan kemerdekaan yang tak ternilai harganya...Tidak ada tugas yang lebih mendesak daripada memelihara perdamaian. Tanpa perdamaian kemerdekaan kita tak banyak faedahnya."

Tema-tema lain yang coba dikumpulkan di album ini masih mengacu pada nilai-nilai Konperensi Asia Afrika, yang memang takbisa dilepaskan juga dari pemikiran cemerlang Bung Karno ketika itu. Seperti judul lagu “Egaliter”, “Merdeka”,”Gotong-Royong”. Lirik lagu dan Puisi pada album ini ditulis oleh Adew Habtsa, yang juga membuat lagunya serta bermain gitar akustik, kemudian diperkuat Hendra Veejay pada Harmonika, gesekan Riksa Al Hasil pada Biola dan vocal latar, juga pembacaan puisi yang berjudul “Kepada Cak Roes" dan “Istana Bogor” oleh Noel Saga, sekaligus bernyanyi pada lagu “Pertemuan” sebuah lagu yang hendak menguatkan kerinduan pada guru-guru bangsa yang telah mengajarkan pada rakyat Indonesia tentang hidup yang senantiasa menjaga kerukunan dan ketentraman. Untuk rekaman di album ini dibuat secara digital berbentuk CD di B3ST MusicStudio, di daerah Ancol Timur-Bandung,dengan arahan yang apik dari Ario Pinecone, masuk studio mulai bulan Juni sampai pertengahan Agustus 2011.

Suasana museum tempat penulis lagu ini bergumul memberi nuansa tersendiri, bagaimana Museum harus digagas dengan apik, agar menjadi tempat belajar yang paling menyenangkan. Terlukis dalam lagu “Di Pojok Museum”,setidak-tidaknya ingin berbagi bahwa benda-benda koleksi itu memang mati tapi ia akan hidup bila seseorang mendekatinya dengan semangat belajar dan mencari ilmu. Ketahuilah kita membutuhhkan guru atau pemandu ilmu yang sampaikan pemahaman yang benar terhadap sejarah sebagai bahan kajian dan cerminan kehidupan di masa yang akan datang.

Yang takkalah menarik dari album ini tentu saja pembacaan pidato Bung Karno yang lugas, menggelegar dan berapi-api, dibacakan oleh seorang aktor-sutradara teater dari kota Bandung yakni Wawan Sofwan. Sebagaimana kita tahu teks pidato pembukaan Konperensi AA itu menggunakan bahasa Inggris, tentu saja setelah dialihbasakan oleh Cak Roes, karenanya kita bisa dengan mudah memahami isi dari pidato tersebut, kendati hanya kutipannya saja. Di samping itu kapasitas dan kapabilitas Wawan Sofwan dalam penguasaan materi dan penghayatan mendalam pada teks pidato takboleh diragukan lagi dan telah menjadi satu kekuatan yang memukau serta diharapkan bisa memberi efek yang cukup magis bagi para apresiator.

Sekali lagi, marilah merayakan perdamaian, sudah penat kita berselisih dan bersengketa terus menerus. Lagu dan musik hanyalah alat ikhtiar kita meraih perikehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Semoga lewat album ini kedamaian dan ketentraman tetap ada dan terjaga. Salam Asia Afrika,salam paling ceria paling merdeka, bismillah god speed!


Bandung, September 2011
Hermawan Wahyudin

Seni Egi diKebun Seni


" SENI EGI FEDLY DI KEBUN SENI " 1 th Kebun Seni dan 55 th Egi Fedly, akan dimeriahkan oleh pameran seni rupa, pertunjukan teater, pembacaan puisi, musik balada, tari, dll. Pengisi acara: Adew Habtsa, Agoes Omponk dan istrinya, Ary Piul Tretura, Asep Doel, Ferry Curtis, Ganjar Noor, Mukti Muktimukti Mimesissoul, Trisno Yuwono, Yasmin Hauzan Nararya, Laskar Panggung, Majelis Sastra, dan pembawa acara: Yusef Muldiyana Full. 28 September 2011, mulai pkl: 17:00, di Kebun Seni, jl. Tamansari No 6 Bandung.