Senin, 01 November 2010

BALADA untuk BENCANA


Sebuah konser amal bertajuk BALADA UNTUK BENCANA akan digelar di BUMI SANGKURIANG Bandung Pada tgl 10 November 2010.

Konser ini selain sebagai ajang apresiatif juga akan digunakan sebagai sarana pengumpulanDonasi bagi korban Bencana Wasior, Mentawai dan Merapi melalui penjualan karya Puisi, Penjualan CD Kompilasi dan Kencleng. Pengumpulan Donasi ini di koordinasi oleh kawan kawan yang tergabung dalam SOKA ( Sokong Kawan).

Dalam Konser ini, selain Ferry Curtis and Friend sebagai Main Talent, juga dimeriahkan Band Balada CIKRUH yang baru terbentuk, CERMIN dan THE DALTONS BAND.

Acara ini terselenggara atas kerjasama BUMI SANGKURIANG COUNTRY & BALLAD COMMUNITY, HOTSPOT ART PRODUCTION, MELINDA HOSPITAL, SOKA, serta didukung oleh Komunitas Balada Bandung, Komunitas Country Bandung, Majelis Sastra, Laskar Panggung dan GIM. (Egi)

Jumat, 22 Oktober 2010

Sebuah Dedikasi untuk Sang Kreator Bandung


PDF Print
SEPUTAR INDONESIA

Thursday, 21 October 2010
MESKI hujan terus mengguyur,namun alunan musik balada yang dibawakan oleh sejumlah musisi balada asal Kota Bandung membuat hangat suasana di Ballroom Bumi Sangkuriang.

Pertunjukan musik Country and Ballad Community itu bertajuk Balada untuk Wawan Juanda. Sesuai judulnya,acara tersebut memang dibuat untuk mengenang sosok kreator asal Bandung yang telah berpulang yaitu Wawan Juanda, mantan President Republic of Enterteinment dan penggagas pelbagai festival serta pertunjukan di Bandung. Sejumlah musisi Kota Bandung seperti Mukti-Mukti, Ferry Curtis,Amy, Sisca Guzheng, kaiYa, Kapak Ibrahim, Egi Fedly, dan beberapa nama lainnya melantunkan lagu-lagu bertemakan Wawan Juanda.

Penghormatan juga disampaikan dalam bentuk lain seperti pembacaan puisi. Puisi itu dari penyair/penulis Matdon, Jusef Laskar Panggung, dan sejumlah penyair dari Majelis Sastra Bandung.Pengunjung yang hadir juga disuguhkan pertunjukan teater dari Teater Laskar Panggung yang membawakan tema yang sama,tentang Wawan Juanda. Sebelum pertunjukan musik dimulai, acara diawali dengan penyerahan lukisan dan album kompilasi untuk keluarga Wawan Juanda. Album kompilasi dan lukisan tersebut diterima oleh adik almarhum, Dadang.Koordinator acara, Egi Fedly, mengatakan Balada untuk Wawan Juanda ini memang dibuat sebagai ungkapan terima kasih kepada almarhum.“Para seniman Bandung ingin mengungkapkan rasa terima kasih kepada tokoh yang juga berperan penting dalam dunia seni dan kreasi,”ujar Egi.

Dia menambahkan,dari komunitas Country dan Balada sendiri memang memberikan karya kepada keluarga Wawan Juanda.“Ya ini memang keinginan kami dan juga kami diberi kesempatan oleh Bumi Sangkuriang untuk mengadakan acara ini.Acara ini sendiri sifatnya apresiatif,” jelas Egi yang sering berperan sebagai tokoh antagonis di layar kaca itu. Di mata Egi,Wawan Juanda adalah sosok inovator dan eksekutor andal.Meski,Egi belum pernah bertemu langsung dengan almarhum, namun dia sering mendengar cerita dan pengalamannya dari kerabat. “Agak menyesal juga belum sempat mengenal langsung,”ujarnya. Sementara itu, seniman dan juga sahabat Wawan Juanda,Mukti- Mukti, mengatakan Wawan Juanda adalah orang sederhana.

“Dia adalah seseorang yang sangat mencintai kota kelahirannya, Bandung. Kami itu kalau ngobrol sering yang berbau politis dan juga obrolan seputar bagaimana membuat sesuatu yang lebih punya arti untuk Bandung,”ungkap Mukti-Mukti saat ditemui seusai dia tampil di panggung. Sebagai ungkapan kagum dan terima kasih serta penghargaan buat sahabatnya itu, Mukti-Mukti mendendangkan satu buah lagu bertajuk His Sky of Stage. Lagu ini pun sebelumnya sempat dia bawakan saat “Festival Bambu 2010” di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) beberapa waktu lalu. “Dalam kesempatan untuk tribute to Wawan Juanda pula,”tuturnya. (dinda wulandari)

coverjabar

Kamis, 21 Oktober 2010

Catatan Malam Musik "Balada Wawan Juanda'


by Herry Dim on Thursday, 21 October 2010 at 12:46

Cinta Itu - Musik Itu

Ketika video musik semacam 'keong racun' tiba-tiba meledak dan/atau mendapat pengakuan publik, ada dua hal sesungguhnya yang bisa kita lihat yaitu (1) dunia teknologi dan daya sebar informasi telah membuktikan kedigjayaannya dalam membentuk opini dan bahkan menyetir cita-rasa publik. Sihir informasi bahkan kebuktikan pula mampu membolak-balik atau paling tidak memburamkan batas-batas antara baik dan buruk, benar dan salah, bermutu dan tidak bermutu, dst.: dan (2) sadar atau pun tidak kita sadari bahwa saat itulah terjadinya keruntuhan tata nilai dan/atau media tempat beredarnya informasi telah menjadi dunia tanpa nilai. Terbukti bahwa seni artifisial, bersifat manipulatif, atau kasarnya tipu-tipuan (teknik lipsing) tak diperdulikan lagi sebagai dusta atau kebohongan melainkan diterima sengan suka cita.

Itulah dunia kita di dalam media (terutama televisi) saat ini, yaitu dunia yang sebagian besarnya adalah dunia artifisial atau dunia yang bukanlah kenyataan yang sebenarnya, melainkan dunia yang telah direkayasa, dikotak-katik, bahkan dijungkir-balik demi kepentingan tertentu yang terutama demi kepentingan berlipat-gandanya modal dan keuntungan.

Musik yang juga mendapatkan porsi cukup besar di dalam dunia informasi televisi dan kemudian internet, sebagian besarnya bisa dikatakan tak terbebas dan bahkan justru menjadi bagian dari dunia artifisial serta manipulatif tersebut. Fenomena 'keong racun' seperti disebutkan di awal tulisan, ini adalah salah satu bukti puncak kedigjayaan dunia informasi di satu sisi, di sisi lainnya adalah bukti keruntuhan dimensi dan apalagi kedalaman musikalitas.

Di penghujung lainnya maka sesungguhnya sulit (untuk tidak mengatakan sama sekali tidak ada) bagi kita untuk mendapatkan nilai-nilai di dalam televisi dan internet sebagai salah satu penghantar informasi, yang ada adalah lautan atau gelombang yang bertumpuk, tumpang tindih, saling desak hingga saling banting antara satu simulacum dengan simulacrum lainnya.

Lantas, kita pun mungkin selanjutnya bertanya; di manakah kiranya tempat hadirnya musik yang masih memperlihatkan dan memperdengarkan alamiahnya? Di manakah tempat kita masih bisa menemukan kehangatan cinta antar-sesama manusia?

Jawabnya, ada banyak musisi, kelompok, atau komunitas musik yang beredar di luar televisi dan sofistikasi informasi. Di antara mereka itu tidak anti-informasi dan tidak pula anti-televisi, tapi galibnya tidak memberhalakannya dan/atau mengagungkannya secara berlebihan. Mereka lebih memilih ruang-ruang yang alami, ruang tempat bertemunya hubungan antar-manusia, tempat saling bersapanya dunia bunyi sekaligus keheningan.

**

Peristiwa musikal yang bertajuk "Balada Wawan Juanda" yang berlangsung Rabu malam, 20 Oktober 2010, di Bumi Sangkuriang adalah salah satu dari sekian banyak 'ruang' yang dihubungan oleh hati dan cinta tersebut.

Seperti halnya ruang tempat makan, kafe sederhana, sedikit lahan komunitas, bahkan kini banyak pula musik (bagus) yang bertebar di trotoar jalanan; malam itu tampilah dengan bersahaja tapi penuh kehangatan cinta sekaligus daya musikalitas hingga teatrikalitas berupa monolog dari Yusef Muldiyana, permainan biola Amy Chepy Kurniawan yang saling hantar dengan pembacaan puisi Kyai Matdon, duet Mukti-Mukti dan Siska, Komunitas Musik Jatiwangi Art Factory, Rizal Abdulhadi, Laskar Panggung, Matdon & Majelis Sastra Bandung, tampilan Ferry Curtis (bersama Ary Viool, Amy), Kapak Ibrahim, Tiga Perempuan (Ken Atik, Vinny Damayanti, Ine Arini), Ganjar Noor, KAiYA, Martha Topeng & Siska, Duo Cermin, dan ditutup penampilan Egi Fedli yang ditemani Ary Viool, Adi, serta Siska.

Selama tak kurang dari empat jam, publik yang hadir hampir sepenuhnya dijamu musik-musik balada yang bisa dikatakan sepenuhnya pula tak pernah kita jumpai di televisi kecuali di komunitas-komunitas. Tapi di sini pula kita bisa menyaksikan kepiawaian Amy bermain biola adalah kepiawaian yang niscaya, nyata, dan bisa disentuh tubuhnya kala main atau pun seusai ia bermain. Nomor "song of the wind" yang dirangkai dengan puisi Matdon dan ditutup dengan salah satu nomornya Didier Lockwood, itu terasa sekali sebagai mana requiem yang malam itu memang ditujukan bagi almarhum Wawan Juanda.

**

Musik balada sebagaimana lazimnya musik bertutur, musik yang juga bersandar kepada kekuatan kata-kata selain musikalitasnya itu sendiri; kemudian meluncurlah dari Mukti-Mukti. Seperti juga penampil-penampil lain semisal Ferry Curtis, Ganjar Noor, Egi Fedli; kekuatan lirik pada musik Mukti-Mukti terasa sekali bukan sekadar syair tempelan melainkan sesusunan struktur kata-kata yang jika dilepas dari musiknya pun bisa berdiri sendiri sebagai puisi dengan daya puitikanya.

Ini pula yang hampir tak bisa kita temukan lagi pada musik-musik sajian televisi atau pun kategori musik industri lainnya. Pada musik dan lirik yang malam itu mereka mainkan, sungguh kita masih bisa menemukan nilai, rasa betapa mulianya kata-kata, hingga kita (sebagai penonton/pendengar) bisa membangun kembali impresi bahwa betapa mulianya kita menjadi manusia. Lirik dan musik balada yang 'kuat' tersebut antara lain bisa pula kita jumpai pada nyanyian "Sahabat Cahaya" dan "Ilalang Terbakar"nya Ferry Curtis, lirik balada dengan sentuhan warna musik psychedelic terasa pula pada nyanyian "Ini Langkahku" dan "Kemuning" yang dimainkan oleh kelompok KAiYA.

**

Pengagungan kepada musikalitas, lirik atau dunia kata-kata, serta sekaligus kebersahajaan keseluruhan acara, kemungkinan besar disadari serta dirasakan pula oleh seluruh yang hadir itu menjadi semacam hymne yang memang hendak disampaikan demi menghormati almarhum Wawan Juanda (1958-2010).

Sang presiden Republic Entertaintment itu memang telah pergi, tapi malam itu pula masih dirasakan kehangatan, cinta, dan persahabatannya dengan sejumlah seniman Bandung. "Semangat almarhum sepatutnya kita lanjutkan," ujar Dadang Jauhari, adik almarhum Wawan Juanda, di awal hymne yang ternyata berlangsung sampai lebih dari empat jam tersebut.

Sepertinya kita pun menyaksikan Wawan Juanda tersenyum di alam sana, alam yang sudah terbebas dari dunia artifisial, alam tanpa kepura-puraan, alam harum mawar yang disertai lagu cinta kawan-kawannya.***

Share

    • Iyya Maliya Kang Herry Dim lewat kata-kata inilah, aku tetap bisa menjumpaimu. Membaca catatan-catatan seperti balada yang diseduhkan dengan irama.
      Puitik dan romantik.
      Salam.
      Yesterday at 02:33 ·
    • Ganjar Noor Aduh, apa yg sy rasakan dan fikirkan trtuang dalam tulisan akang.... ijinkan sy menyampaikan rasa salut kpd akang dan kawan-kawan yang berkarya karena hati dan cinta... semoga kecintaan ini terus berlangsung, terus brangsung memberikan prubahan dan makna-makna trhadap siapapun... termasuk utk Alm. Wawan Juanda yang tengah menuju cahaya surga, dan juga kpd kita-kita yg masih berlalu lalang di bumi brada ini... Smoga nilai-nilai itu smakin menebar, menjalar dan mnumbuhkan kebaikan-kebaikan......
      23 hours ago · 1 personLoading... ·
    • Ilva Effendi Singoastro Kang herry! Pasti gak tidur ya? Pulang dari acara yg nyaris lewat tengah malam langsung nulis..ckckck..si akang the hebring...Like 4 jempol ;)
      19 hours ago via Facebook Mobile ·
    • Windi Ardraprana hatur nuhun Kang..
      4 hours ago via Facebook Mobile ·
    • Bung Barnaz tajam!
      14 minutes ago ·

Senin, 04 Oktober 2010

Balada untuk Wawan Juanda

BALADA untuk WAWAN JUANDA, Bumi Sangkuriang Bandung, 20 Oktober 2010, 19.00

Sebuah Tribute untuk Almarhum Wawan Juanda, President Republic of Enterteinment Penggagas pelbagai festival dan pertunjukkan di Bandung, yang meninggal dalam usia52 tahun, President Republic of Entertainment itu menghembuskan nafas terakhir di RS Rajawali Bandung pada hari senin 5 juli 2010 sekitar pukul 23.00 WIB. Wawan Juanda meninggal karena ada penyempitan pembuluh darah di jantung.

Selama 20 tahun, almarhum berkecimpung di dunia pertunjukkan dan festival di berbagai daerah. Di Bandung, misalnya, Wawan menjadi penggagas beragam acara yang melibatkan masyarakat banyak dan sejumlah artis serta band. Beberapa idenya tertuang dalam bentuk Braga Festival, Bambufest, Spicefest, Batik Festival, dan Dago Walking Day.

Kepergian Wawan mengejutkan keluarga dan semua rekannya kalangan budayawan, seniman, dan wartawan. Tak ada yang menyangka pria kelahiran Bandung, 5 Desember 1958 akan pergi begitu cepat. Sebab selama ini tidak ada penyakit serius yang dideritanya.

Wawan bisa dikatakan sebagai peletak pondasi industri kratif di Kota Bandung. Ia mempelopori dunia event organizer sebagai salah satu penggerak utama industri kratif. Ia menjadi salah seorang pendiri Bandung Creative City Forum (BCCF). Berbagai karyanya langgeng sebagai ikon Kota Bandung. Sebut saja Dago Festival, Braga Festival, Cikapundung Festival, Festival Musik Bambu, Dago Walking Day dan masih banyak lagi karya-karyanya. Yang jelas ia tak pernah jauh dari budaya dan lingkungan Kota Bandung. "Kota Bandung harus bangga karena punya orang seperti Wawan," kata seniman Tisna Sanjaya.

Wawan, anak sulung dari delapan bersaudara ini pergi dengan membawa berjuta angan-angan, krativitas dan cita-citanya. Ulang tahun Kota Bandung ke-200 ialah agenda besarnya tahun ini sebagai wujud cintanya pada kota ini. Kewajiban kita semua melaksanakan cita-citanya. "Selamat jalan Kang Wawan". (Bahan Tempo Interaktif dan Pikiran Rakyat)

Tribute bertajuk BALADA UNTUK WAWAN JUANDA, akan digelar di BUMI SANGKURIANG Bandung tgl 20 Oktober 2010.

Sejumlah Pemusik Balada Bandung mulai dari Mukti-Mukti, Ferry Curtis, Ganjar Noor, Sisca Guzheng, Egi Fedly, kaiYa, Cermin, Ammy 4Peniti, Kapak Ibrahim, Ary Tretura, Martha Topeng, Rizal Abdulhadi, Empat Perempuan, Tedi En, Tjepi Peg... akan mempersembahkan kompilasi lagu2 tentang Wawan Juanda untuk Keluarga Wawan Juanda dan sebagai ungkapan rasa terimakasih atas dedikasi almarhum terhadap pergerakan kesenian di Bandung khususnya dan Indonesia pada umumnya....

Kyai Matdon, Jusef Laskar Panggung dan sejumlah Penyair dari Majelis sastra Bandung tak ketinggalan akan mengungkapkan rasa kagum dan terima kasih kepada Almarhum melalui Pembacaan Puisi....untuk salah satu tokoh besar Kesenian Bandung ini.

Sunday Screen sebuah komunitas Audio Visual di kota Bandung akan mendokumentasikan acara ini.

Acara ini, merupakan Project pertama dari rancangan bentuk pementasan rutin setiap bulan kedepannya pada setiap hari rabu minggu ketiga yang akan digelar di BUMI SANGKURIANG Bandung, Sebagai bentuk acara bagi kegiatan KOMUNITAS COUNTRY & BALADA BUMI SANGKURIANG. Kerjasama ini dijalin antara Hotspot Art Production, Bumi Sangkuring, Melinda Hospital dan Egi Fedly ( Countrykuring Project) yang bertindak sebagai Koordinator acara Balada untuk wawan Juanda ini. (Egi F)

Deu Galih


Setelah di tahun 2009 kemarin merilis box-set bertitel Wonderful Journey yang berhasil menggugah banyak orang, kini di tahun 2010 ini solois neo-folk asal Bandung, Deu Galih kembali mengeluarkan rilisan bermutu dan pastinya, gratis!

Rilisan terbaru dari Deu Galih kali ini adalah sebuah EP kompilasi yang berisi rekaman-rekaman out-take dari sesi Siluet EP (2007); yang mana materi-materi dari Siluet EP juga masuk di CD 4, box-set Wonderful Journey (2009). EP kompilasi ini diberi titel Siluet: B-Sides.

Siluet: B-Sides berisi dua lagu, plus sebuah bonus-track yakni “Salam Matahari (2nd version)” yang mana versi pertamanya akan masuk sebagai soundtrack dari buku ‘Salam Matahari’ oleh Sundea. Tidak seperti materi-materi di Siluet EP yang aransemennya lebih ramai, rekaman-rekaman di Siluet: B-Sides lebih stripped-down & lebih minimalis, tapi tentunya tetap memiliki daya majis dan kharisma khas Deu Galih. Mungkin karena itulah, mengapa bulu kuduk kami selalu berdiri setiap menonton penampilan dari Deu Galih… Ya, seni yang berhasil adalah seni yang bisa menggugah orang-orang. Itulah alasan mengapa kami, Wasted Rockers, memohon kepada Deu Galih agar merilis materi-materi ini. Mentah tapi tetap indah, ya, ibarat berlian yang belum diasah! Begitulah perumpamaan kami atas materi Siluet: B-Sides. Tidak percaya? Silahkan unduh untuk membuktikannya!… - Dede

Deu Galih
Siluet EP: B-Sides

Tracklist:
01. Kembali Sepi [hening]
02. Anak Sungai
03. Salam Matahari (live joking)

Deu Galih / vocal & guitar

Guest musician:
- J.Kondoi / backing-vocal & joking on track 3

- Track 01 oleh Galih Su, 3 Januari 2010. Direkam Live di EvenFlow Studio, dengan bantuan Indra & Gabriel Gunawan pada 5 Januari 2010.
- Track 02 oleh Galih Su, 2 Januari 2008. Direkam Live di EvenFlow Studio, 5 Januari 2010.
- Track 03 oleh Galih Su, 7 Oktober 2007. Direkam live menggunakan mp3-player di perpustakaan Galih bersama Kondoi, Oktober 2009.

Album cover by: Deu Galih
Project coordinator: Dede
Release date: June 2010

Contact & corresspondence:
Phone: 085624533425 (Deu Galih)
E-mail: deugalih@yahoo.com
URL: www.myspace.com/deugalih

Rizal Abdulhadi


JAKARTA: Penyanyi baladis muda Rizal Abdulhadi menyakinkan bahwa dirinya akan berjuang untuk mengibarkan kembali bendera “Folk” dalam jagad musik Indonesia. Demikian disampaikan Rizal Abdulhadi saat melaunching album barunya di Newseum, Jakarta, Selasa (24/8). Melalui album baru ini, Rizal Abdulhadi mengankat 5 lagu, antara lain, “Inilah aku”, “Bung Desa”, “Mari Menari Petani”, “Tertidur Nyenya”, dan “Di Balik Jendela”. Di bagian pembuka acara, Rizal Abdulhadi tampil memukau dengan menyanyikan dua lagu, dan ditemani irama flute dari A. Vincent dan violin oleh Read Violin. Launching ini juga ditandai dengan diskusi yang menghadirkan tiga orang komentator, yaitu pengamat musik Denny Sakrie, musisi reggae Ras Muhamad, dan musisi folk Deu Galih. Menurut Denny Sakrie, kehadiran Rizal Abdulhadi merupakan fenomena langka dalam kancah musik Indonesia yang sedang didominasi oleh warna musik yang seragam, karena berusaha keras untuk menampilkan jenis dan bentuk yang berbeda, orisinil, dan berbau kritik sosial. “Ada banyak musik yang sangat bagus dan berkualitas, namun diabaikan oleh musik mainstream,” ujarnya. Terkait perjuangan Rizal Abdulhadi dalam mengibarkan kembali bendera folk sendirian, Denny mengingatkan, bahwa musisi seperti Leo Kristie pun pernah melakukan kesulitan yang serupa, dimana ia mengibarkan musiknya yang nasionalistis dari pinggiran menjadi diakui banyak orang. Sementara itu, Deu Galih, musisi folk asal Bandung, mengingatkan bahwa musisi merupakan ekspresi kebebasan dari seseorang. Terakhir, musisi reggae Ras Muhamad menyambut baik pemunculan album baru Rizal Abdulhadi sebagai seorang musisi yang kritis dan kerakyatan. Bagi Ras Muhamad, sang duta reggae Indonesia ini, musik Rizal punya kekuatan dari segi lirik-liriknya yang mengangkat realitas atau kenyataan di masyarakat kita. “Balada punya lirik yang sangat kuat, dengan ejaan yang sesuai dengan bahasa Indonesia. Tidak nyeleneh seperti kebanyakan lirik lagu mainstream. Karena itu, kita harus mendukung Rizal membangkitkan kembali lagu balada ini,” katanya. Indonesia pernah punya nama-nama besar dalam musik balada, antara lain, Franky Sahilatua, Harry Roesli, dan Iwan Fals. Diharapkan, melalui kemunculan Rizal Abdulhadi, dengan cara mewarnainya tersendiri, akan sanggup mengibarkan kembali musik folk Indonesia yang lebih kreatif, orisinil, dan memihak rakyat. (Ulf) http://berdikarionline.com/suluh/20100824/launching-album-baru-rizal-

Sabtu, 28 Agustus 2010

Rabu, 25 Agustus 2010

Countrykuring dua



Beberapa nama sudah konfirmasi untuk bergabung....bagaimana dengan anda?
Segera daftarkan nama anda atau group anda, November 2010 batas akhir...

Selasa, 24 Agustus 2010

The Simple Way of Nationalism



Kolaborasi Nasionalisme Musisi Balada Bandung: The Simple Way of Nationalism

Nasionalisme, sebuah kata yang begitu gampang dituliskan, sering diperdengarkan, ringan diucapkan. Tapi seberapa mudahkah untuk menjiwainya? Terlebih lagi untuk mewujudkannya dalam perilaku sesuai maknanya: nasionalisme. Beberapa waktu lalu Indonesia genap berusia 65 tahun, namun segelintir orang justru semakin prihatin karena fenomena nasionalisme yang dilihat semakin buram, beberapa orang lainnya mengumbar nasionalisme dengan arogansi dan kebanggaan dengan cara-cara yang membuat miris. Dan sebagian orang lagi menempatkan nasionalisme sebagai bagian hanya bagi yang berintelektual atas, karena bagi mereka ada yang lebih harus diprioritaskan daripada kata nasionalisme.

Setiap orang memang punya caranya masing-masing untuk menunjukan rasa nasionalismenya, dan beberapa musisi balada di Bandung lebih memilih menunjukan rasa itu lewat ide dan cara yang sederhana namun diharapkan dapat menimbulkan efek yang begitu besar untuk membangunkan kesadaran, berprilaku positif dan pemahaman dalam menjiwai nasionalisme.

Bertempat di Gedung Indonesia Menggugat, pada Minggu (22/8) malam, dalam sebuah forum diskusi kecil, musisi balada Ferry Curtis melontarkan ajakan untuk membuat album yang berisi lagu-lagu balada kolaborasi bertemakan nasionalisme kepada musisi-musisi yang hadir yaitu Ganjar Noor, Egi Fedly, Ary Tretura dan Mukti Mukti, serta didukung oleh Ary Juliyant. Ide dan ajakan ini selain sebagai bentuk nasionalisme dari musisi balada juga merupakan cara mengobati keprihatinan terhadap nasionalisme yang semakin dirasa asing bagi kebanyakan orang saat ini terutama oleh generasi muda.

Lewat lagu-lagu pada album tersebut kita berharap dapat memberikan pengaruh positif tentang nasionalisme, khususnya kepada generasi muda” ujar Ferry Curtis di salah satu sesi diskusi. Lebih lanjut Ferry juga mengungkapkan jika untuk mencapai tujuan seperti itu sebenarnya bisa dengan mudah dilakukan oleh pihak industri musik, namun sejauh ini industri musik di Indonesia dirasa masih fokus pada lagu-lagu seperti apa yang bisa dijual bukan kepada bagaimana pengaruh dan tujuan dari lagu-lagunya.

Album yang nantinya diproduksi secara independent tersebut juga memang merupakan refleksi kejenuhan musisi-musisi balada Bandung terhadap pengaruh tema lagu-lagu yang kini banyak digandrungi. Beberapa lagu yang rencananya akan dikemas dalam album kolaborasi tersebut antara lain Indonesia Mencintai (Mukti Mukti), Kemerdekaan (Ganjar Noor), Derap Indonesia, Menggapai Matahari, Perempuan Perkasa /Indonesia Gerimis (Ferry Curtis) serta beberapa lagu lainnya.

Di saat yang sama, Mukti Mukti juga mengungkapkan jika yang lebih ditekankan di sini adalah bagaimana menanamkan dan menyoroti pengaruh nasionalisme dimulai dari orang-orang dan lingkungan terdekat dengan cara mengemas lagu-lagu yang isinya sederhana dan tidak terkesan rumit karena istilah tema nasionalisme, agar nantinya juga bisa ringan diperdengarkan oleh siapa saja dan tujuan yang diharapkan bisa lebih mudah dicapai. (wai)