Kamis, 09 Desember 2010

WORKSHOP LAGU TENTANG SUNGAI (hari musik balada 27-28 november di sungai cidurian bandung)

by MuktiMukti MimesisSoul on Tuesday, 07 December 2010 at 10:53
Mengembalikan kembali kesadaran peran musisi balada untuk kembali hidup dan mengakar di masyarakat maka seyogianya banyak merespon kerja-kerja pengabdian masyarakat, paling tidak begitu. Sungai Cidurian nampak jelas mengalir melintas kota Bandung yang tak nyaman lagi dengan sampah plastik di aliran sungai tersebut. Hanya dua hari saja kita mengenal cerita sungai cidurian, Itu pun masih terlalu banyak yang kurang rasanya. Sebab, kita hanya mengenal sebagian kecil di kelompok masyarakat yang dengan sadar membangun kawasan bersih mengelola sampah dan upaya masyarakat membersihkan sungai dari sampah peradaban manusia. Paling tidak itu awal dari perkenalan yang sebentar dengan masyarakat, semoga masih terus berlanjut. semoga selalu tetap menjaga sungai dari sampah.

Lima Lagu Tercipta

Egi Fedly/Cai Bajigur Cidurian, mencatat pada syairnya jangan meminum air sungai sebab bukan bajigur dan mengajak membersihkan sungai dalam bahasa sunda. Masyarakat sungai cidurian terkenal dengan minuman bajigur dan kenapa memakai bahasa sunda syairnya? Egi bilang, kan ada kelompok calung dan reog ibu biar lagu itu dipakai buat latihan mereka. Dan tentu saja biar masyarakat musiknya dapat membuat lagu tentang sungai juga.

Caina siga bajigur
Caina siga bajigur
Bajigur, tapi omat ulah diinum
Da eta mah cai Cidurian, anu anyar kahujanan
Da eta mah cai Cidurian, anu anyar kahujanan

Hayu urang bersihan Cidurian
Ngarah caina herang, teu siga bajigur

Deugalih/Panchali, dalam lagunya lebih menghidmati air sungai yang menghidupkan bumi, yang menyejukkan dengan tawan dan rindu. Walau terasa ada tautan elaborasi vokal dalam nyanyiannya, namun itu sebagai kesalahan edit, namun tetap saja enak didengar, seperti air yang mengalir membuat rindu.

Panchali, kami dating
Kini sungai sudah berpelangi
Panchali, jangan menangis
Padi laksmi direstui

Reff:
Tanah hijau yang sejuk, dan rindumu
Tanah hijau yang sejuk, dan tawamu
Kau hidupkan aku, bumi
Kau hidupkan hidup

Panchali, damailah tenang
Gangga beri berkah, tiada pamrih
Pachali, kita berjalan
Berkah shiva merestui

Rizal Abdulhadi/Tak Mau Sungainya Kotor, katanya itu lagu layaknya lagu kober yang mengajak masyarakat untuk tetap membersihkan sungai. Lagu yang pasti akan mengingatkan masyarakat pada kesengsaraan banjir. Ajakan untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Siapa yang Mau sungainya kotor?
Tidak, tidak, tidak..
Siapa yang mau sampah berserakan?
Tidak, tidak, tidak..

Reff:
Karna kita tak mau banjir melanda
Rumah, rumah, rumah kita
Karna kita tak mau banjir melanda
Derita dan sengsara

Deni Ing/Sungai, berkawan dengan membersihkan sungai adalah catatan lagu ajakan pada anak-anak muda untuk membuka mata dan hati. Lagu yang digarap sederhana, dan lebih komunikatif sama hal nya dengan lagu Egi Fedly dan Rizal.

Kita sering berkata
Kita punya harapan
Kita sudah membuka mata
Kita akan membuka hai, kawan muda

Banyak kejayaan di desa
Kekuatan anak-anak muda
Kegelisahan hari depan
Akar-akar nusantara

Saya mulai
Kau pun kawan

Kta tumbuhkan akar rumah kita
Menari mengalir bersama bersama   sungai nusantara
Kita berkawan dengan membersihkan
Hingga surya tak lagi mampu tenggelam di nusantara

Mukti-Mukti/Sungai Ciidurian, semoga berkenan bila rasa kangen berbaur di pinggir sungai sambil makan kasreng, minum kopi, nyanyi-nyanyi dan mendengarkan curah hati masyarakat dan pamadegannya membangun padepokan kreativitas masyarakat bantaran sungai.

Sungai yang bernyanyi
Sepanjang waktu
Adalah rindu  yang memeluk rindu
Sungai di hatimu
Membasuh jiwa
Yang tak pernah mati
Sungai di hatimu, sungai dihatiku
Sungai di hatimu

Kemudian kita merekam dan memberikan cda lagu-lagu tentang sungai pada masyarakat dan para tokohnya. Dan lebih cepat bergegas untuk segera pulang, pamit lebih awal agar masih ada polesan rindu diantara sungai yang masih terus mengalir. Telpon kami lebih dulu pak bila terjadi banjir luapan akibat sampah peradaban kota yah yah yah. Pak RT Odang sangat senang dengan lagu Egi, raut wajahnya begitu takjub dengan karya lagu, ini gimana buatnya yah....padahal, buatnya dengan tidur panjang, bangun atau terbangun dan buat lagu dengan penuh tekanan batin (kata ganjar noor)

Sepertinya, workshop ini tidak berhenti sampai disini. Ada yang mengusulkan membuat moonriver sundel bolong/gitar bolong, maksudnya membuat musik malam dengan oncor dan gitar bolong di setiap bulan purnama. dan peri-peri kasreng bertebaran sepanjang bantaran, jin-jin bajigur ngadarepa sisi walungan dan tentu saja pak camat dengan tatapan mata yang tajem. Berbaris pula para pelukis, penyair dan antek-anteknya memancing ikan, menasbih sunyi. (bersambung belum beres)
awan cukang kawung
· · Share

    • Galih Nugraha Su Tengkiyu, resep :)
      Tuesday at 01:02 ·

    • Deni Ing terharu..
      Tuesday at 11:10 ·

    • Abah Donny dimana saya bisa mendapatkan kaset dan cd nyah...apakah di toko besi sebalah ada Mang ??!!
      13 hours ago ·

    • Egi Fedly Cai Cidurian.....caina siga Bajigur.....yu urang bersihan....ngarah caina herang.....salut kepada warga Cukang Kawung yang sadar lingkungan.....
      A few seconds ago ·

Kamis, 02 Desember 2010

Catatan Hari Balada 27 - 28 November 2010

by Galih Nugraha Su on Friday, 03 December 2010 at 01:29
Bisa jadi hanya terjadi di Indonesia saja di hari ini. Para pemusik balada melakukan kampanye lingkungan, bukan kampanye besar, namun kampanye yang seadanya saja. Hari Balada yang berlangsung 2 hari, menengok dan berbagi kisah kosong tak kosong hingga kisah baru dengan warga desa di sekitar sungai Cidurian. Warga-warga bebersih sungai dari sampah, warga-warga tersenyum sebab mereka memiliki kebudayaannya sendiri, warga-warga apik serta ramah sebab mereka mengerti bahwa semua yang ada di sekitarnya adalah kantung ekonomi yang membuat mereka mandiri.

***

Sungai adalah gambaran. Kering sebab kemarau panjang. Ia jernih jika digunakan dengan baik dan kembali memberi kegunaan. Keruh dan tidakkah nantinya?

Sungai seperti ibu dan teteknya. Ia subur jika kamu menyayanginya, ia subur jika ditopang materi yang layak. Memberi tanpa pamrih, jika ia tidak memendam berbagai masalah dari hulu sampai anak sungainya berakhir di laut. Kalau saja tidak ada kekerasan padanya, air teteknya pun tidak akan mampat sebab terlalu lelah atau kurang gizi.

Sungai memang gambaran tingkahlaku. Dari hulu daun-daun mengendap ratusan tahun untuk menghasilkan mata air dari tumpukannya yang melebur menjadi tanah basah. Mengalir hasil mata airnya bersama-sama, menjadi satu kesatuan besar membentuk sungai. Jika terlalu banyak kekotoran pada awalnya, berapa banyak kehidupan akan berhenti hidup, sebab air yang memberi hidup tidaklah mengalir. Sungai adalah instant karma, yang selalu membayar lunas sebuah tingkahlaku.

Sungai adalah industri mandiri yang berdiri tanpa campur tangan kepentingan lain untuk menghidupi kehidupan di sekitarnya. Jika pihak lain mengotori, maka akan terjadi saling tunjuk untuk saling menyalahkan dari yang mengambil kehidupan dan isinya. Hal ini, tentu hanya terjadi dari yang menumpang hidup di luar kehidupan sungai. Sungai memang gambaran mandiri, yang rawan menjadi korban kekerasan dan pelecehan yang sudah dianggap wajar.

Bukan saja mengenai balada dan pemusik balada. Balada tidaklah pula ada, jika tidak ada pencerita dan pencatat. Meskipun cerita di sekitarnya amatlah banyak.

Pencerita tidaklah punya peran penting dalam berbuat, ia hanya bercerita, hanya penyampai pesan. Sudinya, ia sendiri tidak begitu paham betul akan cerita di masa depan. Sebab pencerita adalah pengamat yang tidak akan mampu bercerita lebih lanjut ketika ceritanya semakin usang besok, sebab ia berkata dengan ungkapan lisan. Ia hanya bercerita kemungkinan-kemungkinan, ia hanya bercerita mengenai masalalu, ia hanya bercerita mengenai hari ini.

Kemungkinan hanyalah mimpi dan harapan dari kematian pohon, untuk menghidupi sekitarnya menjadi bibit air, lalu menjadi sungai. Semoga manusia pun ikut membantu, membersihkan dan menjaga sungai. Agar sungai tetap mampu memberikan air teteknya pada anak-anak tanpa harus kekurangan gizi.


Terimakasih untuk warga Cidurian. Terimakasih untuk Mukti-Mukti, Ganjar Noor, Ary Juliyant, Rizal Abdulhadi, Egi Fedly, Deny, saya diajak ikut ke sana. - Bandung 29 November 2010, Galih Su.

Rabu, 01 Desember 2010

Selasa, 30 November 2010

HARI MUSIK BALADA


Tinjau Sungai, Ngupi dan Nongkrong
bikin Lagu Sungai

Konser ala Balada

Sharing Bikin Lagu
Sebuah catatan manis kembali dituliskan oleh para musisi balada Bandung, lewat perayaan Hari Musik Balada 2010 pada Sabtu dan Minggu lalu (27-28/11). Didasari rasa kebersamaan dan kecintaan terhadap seni, lingkungan dan kehidupan disekitarnya, sejumlah musisi balada seperti Mukti Mukti, Ganjar Noor, Egi Fedly, Rizal Abdulhadi, Deu Galih serta teman-temannya berbaur dengan warga di sekitar bantaran sungai Cidurian, tepatnya di lingkungan RW 10 Desa Cukang Kawung Bandung.Kegiatan yang berlangsung selama dua hari berturut-turut ini disambut hangat oleh para warga setempat. Pejabat lingkungan dari mulai Ketua RT /RW, Lurah hingga Camat pun turut membantu dan mendukung penuh kegiatan tersebut.
Selain berkunjung dan berinteraksi langsung dengan para warga, diantaranya pada mereka yang mengelola industri kemasyarakan seperti industri rumahan Konveksi kaos, sablon , gitar, kelompok kesenian tradisi seperti Calung dan Reog... para musisi balada juga membuat lagu langsung bersama warga. Salah satu frame menarik yg juga menginspirasi para musisi balada adalah kekompakan para warga dalam menjaga dan membersihkan sungai Cidurian yang menjadi hulu sungai yg mengalir di Bandung. "Adanya Hari Musik Balada ini bisa dikatakan sebagai sebuah terjemahan yang sangat luas, bukan hanya sekedar perayaan musik, tapi juga tentang masyarakat dan kehidupannya, karena memang begitulah isi musik musik balada sesungguhnya" ungkap Ary Juliyant dalam sebuah obrolan santai. Ary Juliyant juga merupakan salah satu musisi balada yg kembali hadir dan sengaja datang dari Lombok untuk perayaan Hari Musik Balada ini.

Ungkapan senada mengenai Hari Musik Balada juga dilontarkan oleh Mukti Mukti yang berpandangan dan mengajak agar para musisi balada harus tahu serta mengenal masyarakat dan kehidupan disekitarnya dengan cara turun langsung dan berbaur dengan masyarakat itu sendiri. Bukan hanya pagelaran kecil dan sederhana yang sengaja dibuat diantara para musisi balada untuk saling meapresiasi karya-karyanya dan menjadi salah satu wujud perayaan Hari Musik Balada. Sebuah bentuk apresiasi untuk para warga juga dihadirkan. Lima lagu yang sebelumnya dibuat bersama-sama dengan warga berhasil dirampungkan dan dikemas dalam sebuah album yang kemudian diberikan langsung untuk para warga. Lagu-lagu tersebut adalah Sungai Cidurian (Mukti Mukti), Tak Mau Sungainya Kotor (Rizal Abdulhadi), Cai Bajigur Cidurian (Egi Fedly), Panchali (Deu Galih), dan Sungai (Deny Ing).

"Sebuah perayaan yang sangat berkesan saat kita bisa menemui dan berbaur langsung dengan para warga, tidak ada jarak hingga terasa suasana kebersamaan yang hangat dan mengalir begitu saja. Lewat lagu-lagu yang kita buat bersama itu salah satu cara kita meapresiasi dan menyemangati kegiatan para warga yang sebetulnya banyak menginspirasi kita juga" ujar Egi Fedly yang baru pertama kali dan merasa terkesan dilibatkan dalam perayaan ini.

Memang ada banyak cara yang bisa dilakukan saat kita bicara tentang perayaan. Namun sesuai dengan semangat musiknya, Hari Musik Balada dirayakan dengan bersahaja, penuh kebersamaan, saling menginspirasi, saling mengapresiasi, dan disanalah disebenarnya kemegahan sebuah perayaan itu hadir. (wai)

JERUJI, Egi Fedly, Arr.Ary tretura

Senin, 29 November 2010

Segeralah sembuh.....Benderanya Sudah Berkibar!!!!!


by Nona Dian on Monday, 29 November 2010 at 02:02
MUSISI GELAR PENTAS "BENDERA HARUS BERKIBAR"
Minggu, 28 Nov 2010 16:32:47| Ibukota dan Daerah | Dibaca 52 kali

Bandung, 28/11 (ANTARA)- Musisi Balada Ferry Curtis menggelar pentasnya, bertajuk "Bendera Harus Berkibar" guna memperingati 80 tahun Gedung Indonesia Menggugat.

Ferry Curtis yang ditemui di Gedung Indonesia Menggugat Jl Perintis Kemerdekaan No.5 Bandung, Minggu, Mengatakan, konser tunggalnya yang akan diiringi 10 rekan lainnya seperti Danny Reginus, Reynout, Echalino, Asep , Ary Tretura, Yopi, Arif juga Krisna akan diadakan secara geratis pada 2 Desember mendatang.

Dari konser ini Ferry telah menyiapkan sekitar 12 lagu andalannya anatara lain ; Anak kecil kehilangan bendera, Bendera Harus Berkibar, Ilalang yang terbakar, Kau yang terpilih, Kaki-kaki kecil anak-anak kita dan Sahabat Cahaya.

Konser yang bertajuk "Bendera Harus Berkibar," berawal dari keinginannya untuk menanamkan rasa bangga generasi muda terhadap negaranya sendiri.

Ferry mengungkapkan, beberapa waktu lalu tak sedikit orang tercengang mendengar pidato Obama yang pulang kampung, sementara tidak sedikit juga generasi yang melupakan, bahwa kita memiliki bapak orator terhebat, bapak bangsa yang juga "Putra Fajar" Indonesia, dimana ia mengungkapkan pidatonya pada tanggal 2 Desember silam di Gedung besejarah kota Bandung, dia lah, Bung Karno.

Seperti kutipan dari syair lagu Ferry "Kini tinggal cerita dari jayanya Sang Fajar Bangsa, kita telah merobek warna bendera lukai sendiri." Dari syair lagunya Ferry ingin mengungkapkan bahwa sejatinya generasi Indonesia sudah selayaknya tetap memegang benderanya, jika pun bangsanya kalah dan hancur ditengah kepungan beribu musuh, generasi terbaik adalah generasi yang mampu memegang benderanya hingga dia mati.

Disinggung mengenai lagu berpola industrialis, Ferry berpendapat bahwa "genre" musik yang diusungnya merupakan "genre" yang jauh dari kebiasaan virus yang diperdengarkan industrialis pada masyarakat.

Ferry mempercayai bahwa Tuhan hanya mengajarkannya untuk terus berikhtiar memberikan yang terbaik.

Ribuan lagu cinta yang dihasilkan oleh industri tidak menjamin bahwa akan mendorong rasa nasionalisme dan bertambahnya rasa cinta terhadap tanah air.

"Tidaklah penting membeludaknya penonton saat konser hingga banyaknya korban berjatuhan bukan karena cinta nya pada tanah air tapi karena mabuk, tauran dan lagu cinta yang diperdengarkan pola industrialis pada akhirnya hanya berdampak sia-sia," katanya.

Dengan demikian Ferry Curtis, berharap bahwa musik selayaknya dapat menginspirasi kehidupan agar "Menjadikan hidup lebih hidup karena ketika kita dengarkan musik yang mati kita akan mati, Ketika kita dengar musik yang hidup maka kita akan hidup," tambahnya. ***4***

Senin, 22 November 2010

Jalan bagi Pergaulan di Kancah Global

by Herry Dim on Monday, 22 November 2010 at 17:48
(kertas pengantar diskusi worldmusic)

Catatan: Herry Dim

Freedom! Progressing is in the world of art as in the mighty creation the purpose. There is no rule in art that could not be superseded by a higher one. …further reveal the higher and true field of art and to transfer yourself further and further up into art's heaven!
Ludwig van Beethoven

Hey Kabayan, hirup mah durang duraring, atuh da bongan boga hariring. Hirup mah during durirang, da bongan boga haleuang. Heuheuy hoyah, hirup mah ngagebah susah.
Mang Koko – gending keresmen Si Kabayan 

Kita duduk bersama-sama di sini persis sehari menjelang berlangsungnya “Monju West Java World Music Festival (MWJWMF)” selama dua hari, 19 – 20 November, di sini, di area Monumen Perjuangan, Bandung. Adakah besok itu sekadar seperti umumnya terjadi yaitu kenduri pertunjukan musik dan setelah itu bubar? Atau jika diubah pertanyaannya, apa kepentingan worldmusic bagi konstelasi kebudayaan kita?
Jawaban atas pertanyaan seperti itu, seyogianya muncul dari penyelenggara yaitu Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) Jabar dan terutama dari “otak” di balik berlangsungnya MWJWMF. Itu pun jika suatu peristiwa hendak ditempatkan menjadi peristiwa budaya, suatu perjuangan panjang untuk mencapai perbaikan, dan pada akhirnya mendirikan kebudayaan baru yang lebih sehat, hadir di tengah peradaban baru, dan diapresiasi oleh publik dengan sepatutnya.
Hal di atas dikemukakan di awal catatan mengingat gerakan worldmusic di satu sisi sesungguhnya memiliki fungsi strategis bagi ‘nasib’ sejumlah musik etnik kita, bisa menjadi jalan bagi ‘pergaulan baru’ di dalam kancah global, dan tak dimungkiri memiliki daya bagi kepentingan pariwisata.  Tapi di sisi lainnya, sekaligus demi tercapainya hal yang strategis tersebut, menjadi mungkin jika suatu peristiwa itu ditempatkan di dalam kerangka kebudayaan; tidak semata-mata ditempatkan sebagai ‘kariaan’ melainkan tempat berlangsungnya kecendekiaan.

**

Tapi marilah kita lupakan hal yang luput atau tak tergarap oleh “otak” MWJWMF tersebut, kini selintas kita coba menyimak sisi penting worldmusic.
Di tengah kehidupan kita sendiri amat sering kita dengar percakapan warung kopi hingga ke forum-forum akademik yang antara lain membincangkan betapa tersisihnya seni etnik di hadapan seni industri. Jauh lagi ke belakang, sejarah kebudayaan (musik) secara global seolah telah terpaku kepercayaannya dengan keyakinan bahwa puncak-puncak pencapaiannya berada di masa baroque, roccoco, hingga klasik. Itu sekadar untuk menggambarkan bahwa di dalam masa berabad-abad diyakini hanya ada satu arus besar di dalam kebudayaan musik, sementara yang lainnya (the other) itu adalah hal lain sebagai sampiran dan bahkan dianggap tidak ada. Sesungguhnya hal atau logika ‘arus besar’ tersebut sebetulnya berlangsung pula di wilayah politik dan ekonomi, masa kolonialisme dan penjajahan adalah salah satu saja dari citra umum tentang dunia masa lalu tersebut. Konsep imperialisme, istilah halusnya di kemudian hari menjadi persemakmuran (commonwealth), yang berkeyakinan mesti hanya ada satu-satunya kekuatan yang mengikat sekaligus memegang otoritas mengatur bagian-bagian kecil lainnya, adalah ciri lain dari logika arus besar tersebut. Manakala prinsip-prinsip kapitalisme muncul sejak kapitalisme awal (early capitalism) hingga moda kapitalisme ke-3 (third capitalism) sekarang ini, logika penguasaan arus besar menjadi beralih di tangan kekuatan modal. Jika pada kapitalisme awal jelas di dalamnya hingga menghalalkan pemerasan dan penindasan umat manusia, pada kapitalisme ke-3 di samping pembesaran modal yang multi-gigantik adalah juga penguasaan teknologi, perangkat dan teknologi informasi; alat main berkutnya adalah juga ‘mempermainkan’ wilayah hak cipta (copyright) yang cenderung hanya berpihak kepada perlindungan modal mereka ketimbang perlindungan ‘bagian-bagian kecil’ tadi. 
Worldmusic, dengan terang-terangan atau pun lebih seringnya dengan terselubung, sesungguhnya telah menjadi jalan perlawanan (counter culture) terhadap Goliath arus besar. Awalnya serba alamiah, naluri keinginan bangkit dari setiap puak, etnik, bangsa-bangsa dengan cara dan gayanya masing-masing. Disebabkan sifat alamiahnya, maka pada awalnya pun berjalan masing-masing. Namun, sesungguhnya sejak mulai ditemukannya radio dan semakin canggihnya transportasi pesawat terbang, kesalingterhubungan antara satu puak dengan puak lainnya menjadi amat mungkin terjadi. Belakangan, dengan munculnya teknologi internet, hubungan antar-subjek (inter-subject) kebudayaan tersebut menjadi semakin dekat dan semakin intens lagi.
Adapun kemudian ada semacam klaim bahwa istilah worldmusic itu digelindingkan oleh Robert E. Brown, seorang etnomusikolog dari Universitas Wesleyan, Connecticut, AS; sebagai kenyataan ‘rasa ketertindasan’ dan kehendak untuk melakukan perlawanan terhadap arus besar, itu sesungguhnya (seperti diurai di atas) telah berlangsung cukup jauh sebelumnya dan nyaris pula merata dirasakan oleh berbagai etnik dan bangsa-bangsa di dunia. Dari kalangan klasik sendiri bahkan telah menyadari bahwa tidak ada kelas seni dalam pengertian yang satu ‘tinggi’ dan lainnya ‘rendah,’ seorang Beethoven, misalnya, menyatakan “there is no rule in art that could not be superseded by a higher one.” Sebab setiap etnik dan bangsa-bangsa itu memiliki ‘hariring’ (nyanyian) atau kebudayaannya sendiri-sendiri yang sesungguhnya tidak bisa dibanding-bandingkan dengan cara lihat ‘tinggi’ dan ‘rendah.’ Mang Koko dengan bahasanya di dalam salah satu nyanyian ciptaannya menyatakan “hirup mah durang duraring, atuh da bongan boga hariring. Hirup mah during durirang, da bongan boga haleuang.”
Maka, dalam satu sisi, worldmusic itu bisa dikatakan sebagai gerakan perlawanan, suatu upaya menggugat dengan cara tidak mengepalkan tinju atau melempar batu melainkan dengan fitrahnya yaitu jalan musik yang kemudian ternyata ‘berkoloni’ di dalam jejaring bangsa-bangsa hingga kemudian menemukan istilahnya worldmusic. Oleh karena itu pula maka, energi di balik (beyond) peristiwa musiknya itu sendiri, yang kerap muncul menyertai gerakan ini adalah isu-isu sekitar persahabatan/persaudaraan, kesetaraan, kemerdekaan, perdamaian, kemanusiaan, dan kemudian sangat santer bicara pula ihwal lingkungan hidup.    
Kepentingannya, bagi kita, pertama bisa melihat bahwa ‘keperihan budaya’ itu ternyata tak dapat ditanggung sendiri-sendiri melainkan perlu adanya semacam sistem jejaring yang tak perlu menjadikannya seragam melainkan tetap di dalam keragaman, saling menghargai, setara, sehingga segenap yang semula tersembunyi karena terkubur arus besar itu menjadi memiliki ruang aktualisasi, hadir, dan sederajat. Sisi lainnya, yang perlu pula kita sadari, bahwa nasib ketertindasan seni etnik/tradisi itu ternyata tidak sendiri, melainkan ‘banyak teman’ karena terjadi serta terasakan di mana-mana di lingkup global ini.

**

Sadar atau tidak kita sadari, bersama peristiwa Woodstock 1969, munculnya gerakan Dadaisme, hingga pemikiran-pemikiran sekitar partispatoris, emansipatoris, kesetaraan yang disuarakan kalangan pasca-modern; saat itu sudah mulai diimpikan untuk hadirnya dunia baru yang lebih basajan, kembali ke alam (back to nature), merdeka, demokratis, serta saling menghargai. Semangat inilah yang kemudian membayang di berbagai gerakan worldmusic. Bentuk umumnya bertebar dalam pola festival seperti di antaranya adalah Ariano Folkfestival, festival worldmusic selama lima hari di Ariano Irpino;  California World Music Festival di pedesaan Nevada; World Sacred Music Festival di Olympia, Washington; WOMAD Foundation yang menyelenggarakan festival-festival di negara-negara seluruh dunia;  Starwood Festival sejak 1981; Festival de l'Inde di Evian, Haute-Savoie, Prancis; Mawazine, festival worldmusic di Rabat, Moroko, kini telah menjadi ikon musik internasional ala Arab; Svirzh World Music Festival di wilayah Lviv, Ukraina; Festival Músicas do Mundo, di Sines, distrik Setúbal, Portugal; dan lain-lain dalam jumlah yang masih banyak.
Kelak, jika MWJWMF mampu berjalan secara berkala, tak terlalu jauh bagi kita untuk membayangkan bahwa di kemudian hari peristiwa di kota Bandung ini menjadi bagian pula dari persitiwa pergaulan dunia. Jika peristiwa ‘kariaan’ tersebut selanjutnya mampu pula berjalan dengan menghargai ‘kecendekiaan,’ optimis pula bahwa di kemudian hari sejumlah seni tradisi yang kita miliki bisa mulai ‘bunyi’ dan ikut ‘berbicara’ di kancah dunia. Adapun seperti kita rasakan saat ini bahwa publik dan mediamassa cenderung seperti masih a-priori, bukan tidak mungkin pula pada waktunya nanti berbalik untuk ikut serta mengapresiasi. ***

(Herry Dim, pelukis, pekerja teater, pecinta/penulis bahasan musik, tinggal di Cibolerang)




=naskah ini disampaikan pada dialog pra-event West Java World Ethnic Festival, 18 November, Ruang Dalam Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, jl Diponegoro 9, Bandung.

Penampilan Hari Pochang dan Collin Bass pada alah satu peristiwa "Monju World Music Festival 2010" (foto: Martha Topeng)

Sorasada

 

SorasadaKembali membawa pesan/naskah Kabuyutan/Raja-Raja Sunda melalui lagu-lagu.

"Sorasada", Menggugah Sunda dengan Musik

LAYAR pentas terbuka pelan. Mengikuti gerak kain layar. Suara kecapi
terdengar ritmis. Lalu vokal Wulansari, terdengar pelan dan panjang.
Suling mengembus seolah datang dari kejauhan. Layar terbuka
seluruhnya. Suasana syahdu, tapi juga terasa mistis. Dan itu bukan
lantaran seluruh musisi berbaju hitam, tapi lebih karena bangun
musikal yang mulai menekan.
KELOMPOK musik Sunda "Sorasada" menampilkan jenis musik "Jazz Sunda
Progresive" dalam penampilan mereka di Padepokan Seni Jawa Barat
Bandung, Jln. Peta Sabtu malam (4/11) 2006. Musik yang memadukan
"keyboard", bas, konga, "dogdog", kecapi, suling serta kendang ini
merupakan pertemuan musikal yang menarik dan dinamis.*M. GELORA SAPTA/"PR"

Terlebih ketika keenam vokalis perempuan (rampak sekar) bergantian
mengucapkan Hanamuni Hanamangke (Ada dulu ada sekarang, tak ada dulu
tak ada sekarang). Mereka mengucapkannya bergantian. Suasana terasa
sengaja dibiarkan mengendap. Pukulan dogdog, raung keyboard, embusan
suling, dan bas yang mengendap-endap. Seluruhnya terus berada dalam
perulangan yang ritmis, namun terasa makin syahdu dan mistis, terutama
dalam perulangan kata-kata Hanamuni Hanamangke.

Pada satu kelokan nada yang tak terduga, tiba-tiba tempo berubah
dengan sentakan pukulan dogdog dan kendang yang ritmis, juga
ketukan-ketukan konga yang dinamis. Suasana mendadak berubah menjadi
riang. Terlebih ketika penonton merenspons dengan tepuk tangan
mengikuti irama perkusi.

Akan tetapi mendadak semuanya kembali berubah tak terduga. Ketika
tempo dan irama semakin cepat serta riang, mendadak semua menemukan
akhirnya. Klimaks yang dibiarkan tergantung, tapi sangat impresif.

"Hanamuni Hanamangke", itulah nomor pertama dari suguhan kelompok
musik Sorasada dalam penampilan mereka di Padepokan Seni Jawa Barat
Bandung, Jln. Peta Sabtu malam (4/11). Sebuah komposisi yang
mengadopsi kesadaran tentang akar dan sejarah Sunda, hari ini dan masa
lalu. Dengan materi musik yang terdiri dari dog dog, konga, kecapi,
suling dan keyboard, kesadaran ini dengan menarik diungkapkan lewat
bangun dan suasana musikal yang syahdu dan mistis, juga menyimpan
karakternya yang dinamis, seolah hendak mempertautkan ruang masa dan
masa kini.

Sebagai sebuah kelompok musik Sunda, Sorasada memang masih terbilang
baru. Namun kelompok yang menyebut jenis musiknya sebagai Jazz Sunda
Progresive ini, terasa telah memiliki karakternya yang jelas. Dan itu
didukung oleh kemampuan musikal para personelnya yang rata-rata
bukanlah orang-orang kemarin sore dalam musik tradisi Sunda; Yuyus
Ertano (konga, dog dog) Asparasepta (kendang), Oki GPL(kohkol), Iing dan
Tedi (kecapi), Ganjar Noor (bas), Apipudin (dog dog).

Seperti juga Zithermania dan Samba Sunda, Sorasada adalah kelompok
yang mencoba menghadirkan estetika musik lewat pemahaman yang lebih
terbuka pada seluruh tradisi musik, tanpa kehilangan karakternya
sebagai musik yang bernuansa Sunda. Memadukan keyboard, bas, konga,
dan dogdog, kecapi, suling serta kendang, merupakan pertemuan musikal
yang menarik dan dinamis. Instrumen yang berbeda budaya itu saling
memberi mengisi dan memberi makna dalam warna musik Sunda.

Inilah yang juga terasa dalam nomor "Pamuda Sunda". Nomor ini
merupakan sebuah lagu rakyat (folk song) yang berasal dari Baduy.
Vokal Asparasepta dengan syair bahasa Baduy membuka nomor ini, untuk
lantas disambung dengan gemuruh pukulan dogdog yang ritmis dan cepat,
juga suling yang melengking. Pada nomor pendek ini terasa komposisi
mengalir dalam struktur yang apik. Estetika bunyi dan kesadaran tema
yang hendak disampaikan terasa perhubungannya.

Mengolah musik untuk menghadirkan gagasan kesadaran tentang Sunda,
inilah yang menjadi keberangkatan Sorasada dalam penampilan mereka
malam Minggu kemarin. Delapan nomor yang mereka mainkan malam itu,
seluruhnya bertemakan kesadaran tentang Sunda.

Seperti juga nomor "Pamuda Sunda", nomor "Sunda Sawawa" juga hendak
menghadirkan semacam "panggeuing". Lirik lagu ini bertutur tentang
keindahan tanah Sunda dalam irama yang riang dan dinamis. Cabikan bas
Ganjar saling berinteraksi dengan pukulan konga Yuyus Ertano dalam
nada-nada tinggi, untuk lalu pelan kembali merendah dengan peralihan
yang manis.

Peralihan tempo yang tak terduga dalam irama yang lincah, inilah yang
selalu dilakukan, yang berpadu dengan kekompakan para vokalis rampak
sekar. Mereka mampu larut dan masuk ke dalam setiap perpindahan irama
dan tempo, tanpa kehilangan kontrol vokal dan kekompakannya. (Ahda
Imran)**

Saksikan Perfom kami dengan pesan-pesan kabuyutan dan raja-raja sunda
Tanggal 8 Dsember 2010 di Bumi Sangkuriang Jl. Kiputih Ciumbuleuit Bandung.

Agenda BALADA

27 - 28 November Workshop dengan warga Bantaran Kali Cidurian Bandung, membuat lagu tentang Sungai

2 Desember 2010 Konser Ferry Curtis n Friend "KEPADA PUTRA SANG FAJAR", Pukul 19:30 - 21:30 WIB bertempat di GIM (Gedung Indonesia Menggugat) Jln. Perintis Kemerdekaan No.15 Bandung.

3 Desember 2010 KonserFriday,pk 20:00
Ruang Putih Bandung, Indonesia Ary Juliyant TIME TUNNEL

8 Desember 2010 pk 20.00 BALADA HIJAU Present Ully Hary Rusady, Ganjar Noor, Sorasada, Sunex, Kolaborasi Cikruh Ary Juliyant & Mukti mukti

10 Desember 2010 Konser Ferry Curtis gedung KAA, Bandung

BALADA HIJAU



Balada Hijau, merupakan Produksi ketiga dari Bumi Sangkuriang Country & Ballad Community, setelah Balada Untuk Wawan Juanda dan Balada Untuk Bencana...
Acara reguler pada setiap hari Rabu Minggu kedua tiap bulan ini, dikemas sebagai pertunjukan yang apresiatif...selain menampilkan pemusik Country&Balada,pada beberapa event juga menampilkan Musikalisasi Puisi, Puisi, Monolog dan Performing Art.
Kali ini Kerinduan akan Alam Hijau menjadi benang merah , dengan menampilkan karya karya bernuansa lingkungan hidup dari Ully Hary Rusady, Ganjar Noor, Sorasada Akustik, Kolaborasi Cikruh, Ary Juliyant dan Mukti mukti....Mc Empat Perempuan.
Balada Hijau akan diselenggarakan pada tanggal 8 Desember 2010 pukul 20.00 Wib, bertempat di Bumi Sangkuriang, jalan Kiputih 12 Bandung .
Balada Hijau merupakan bentuk kerjasama dari Bumi Sangkuriang, Melinda Hospital, Hotspot Art Production dan Komunitas Balada Bandung....Be there...