Senin, 22 November 2010
BALADA HIJAU
Balada Hijau, merupakan Produksi ketiga dari Bumi Sangkuriang Country & Ballad Community, setelah Balada Untuk Wawan Juanda dan Balada Untuk Bencana...
Acara reguler pada setiap hari Rabu Minggu kedua tiap bulan ini, dikemas sebagai pertunjukan yang apresiatif...selain menampilkan pemusik Country&Balada,pada beberapa event juga menampilkan Musikalisasi Puisi, Puisi, Monolog dan Performing Art.
Kali ini Kerinduan akan Alam Hijau menjadi benang merah , dengan menampilkan karya karya bernuansa lingkungan hidup dari Ully Hary Rusady, Ganjar Noor, Sorasada Akustik, Kolaborasi Cikruh, Ary Juliyant dan Mukti mukti....Mc Empat Perempuan.
Balada Hijau akan diselenggarakan pada tanggal 8 Desember 2010 pukul 20.00 Wib, bertempat di Bumi Sangkuriang, jalan Kiputih 12 Bandung .
Balada Hijau merupakan bentuk kerjasama dari Bumi Sangkuriang, Melinda Hospital, Hotspot Art Production dan Komunitas Balada Bandung....Be there...
Jumat, 12 November 2010
BALADA untuk BENCANA: CATATAN SUARA KEPEDULIAN LEWAT APRESIASI KARYA
Sebuah konser amal bertajuk Balada untuk Bencana digelar pada Rabu malam lalu (10/11) di Bumi Sangkuriang, jalan Kiputih 12 Bandung. Konser ini merupakan persembahan dan wujud kepedulian kepada korban bencana Merapi, Mentawai dan Wasior dari Bumi Sangkuriang Country and Ballad Community yang bekerjasama dengan Hotspot Art Production, BP Bumi Sa
ngkuriang, Melinda Hospital, serta para musisi balada dan country di Bandung.
Konser amal ini tidak hanya sekedar bertujuan untuk mengumpulkan dana bagi para korban bencana, tapi juga keutuhan a
presiasi musik dari musisi balada dan country tetap dihadirkan kepada hampir tiga ratus audience yang hadir malam itu. The Daltons Band, yang tampil sebagai band pembuka pertama dengan membawakan lagu Looking In The Eyes of Love milik Alison Krauss and Union Station, serta satu lagu karya The Daltons yang berjudul Mimpi yang Indah. Dengan tetap membawa sentuhan warna country khas The Daltons, salah satu band country yang juga sudah sangat dikenal di Bandung ini mampu menarik audience membuka konser dengan manis.
esif juga membawakan dua lagu karya mereka, Merah DarahKu dan Kabari Aku. Berbeda dengan penampilan-penampilan sebelumnya, di konser amal malam itu Tjermin tampil dengan sentuhan aransemen sederhana lewat perpaduan suling sunda, gitar elektrik yang dipetik dan dimainkan dengan bow (alat penggesek biola).
irkan lewat kolaborasi bersama Mukti Mukti yang juga menjadi MC di acara tersebut. C’kroh tampil membawakan Doa untuk Indonesia
, salah satu lagu milik Mukti Mukti yang malam itu sengaja diaransemen dengan warna musik reg
gae.
Sebagai pengisi acara utama pada konser Balada untuk Bencana, Ferry Curtis and Friends kemudian tampil membawakan sejumlah lagu yang berisi lirik yang begitu kuat dan sentuhan musik yang apik. Beberapa lagu Ferry Curtis yang dihadirkan malam itu antara lain Ilalang Terbakar, Perempuan Masa Lalu, Menggapai Matahari, Derap Langkah, Sahabat Cahaya, sebuah lagu baru berjudul Kisahmu, Kisahku, Kisah Kita dan Aga Kareba yang dijadikan lagu penutup. Di be
berapa lagu Ferry Curtis &Friends juga tampil berkolaborasi dengan sentuhan biola dari Ary Tretura, tak heran kalau para mahasiswa Poltekes Angkatan Udara yang menjadi tamu undangan di acara tersebut dibuat semakin betah dan begitu menikmati acaranya, selain karena kemampuan entertain Ferry Curtis yang komunikatif kepada audience.Kamis, 11 November 2010
Arti "World Music" bagi Bandung
Jawa Barat dengan mengambil tempat di kota Bandung, tepatnya lagi di areal Monumen Juang (Monju), 19 – 20 November 2010 ini akan menyelenggarakan perhelatan besar bertajuk “Monju West Java World Music Festival” (MWJWMF), menurut rencana akan menampilkan Colin Bass (Inggris), Jeny Weisgerber (Jerman), Sarah & Meika Gomez Ttukunak (Spanyol), Kamal Musalam (Dubai), Ron Reeves/Warogus (Australia/Indonesia), serta sejumlah kelompok atau musisi tanah air.
Setelah adanya perhelatan “Bambu Nusantara 4 World Music Festival” Oktober 2010 dan Bandung World Jazz Festival 6 – 7 November 2010 yang cenderung bernuansa worldmusic pula, maka MWJWMF bisa dikatakan sebagai tanda berikutnya tentang begitu besar perhatian Jawa Barat atau pun kota Bandung terhadap genre worldmusic.
Besarnya antusiasme kalangan musik Bandung terhadap worldmusic, kiranya memiliki alasan yang cukup jelas. Jauh sebelum lahirnya istilah world music adalah orkes Gentono di Gedung Merdeka, Bandung. Pertunjukan yang berlangsung tahun 1952, itu menampilkan simfoni gamelan yang menyajikan komposisi-komposisi dunia. Gentono, memang, kemudian mendapat kritik keras dari pasangan pengeritik musik, J. A. Dungga dan L. Manik, tulisannya diterbitkan dalam bentuk antologi berjudul “Musik di Indonesia dan Beberapa Persoalannya” oleh Balai Pustaka pada tahun 1952.
Tulisan J. A. Dungga dan L. Manik tersebut di kemudian hari dianggap skeptik dan arogan, demikian setidaknya menurut Alif Danya Munsyi (nama alias dari Japi Tambayong). Di dalam sebuah risalahnya, Alif Danya Munsyi memetik salah satu bagian tulisan J.A. Dungga dan L. Manik yang dianggap skeptik tersebut sebagai berikut: “…kita katakan Gentono dilihat dari sudut kerja seni, sangat rapuh… Dan di sini terletak suatu kepincangan dari Gentono, jadi Gentono yang memakai alat-alat gamelan yang katanya sudah dipermodern itu, dan bukan gamelan itu sendiri… Umumnya kita sudah tahu bahwa gamelan tak membikin perubahan apa-apa sejak berabad-abad lamanya sehingga keadaan dan kedudukannya masih dalam status sederhana alias primitif, yang menghasilkan musik primitif pula.”
Tak Berpandangan Jauh
Jika melihat perkembangannya kemudian, pandangan Alif Danya Munsyi memang cukup beralasan. Pasangan J.A. Dungga dan L. Manik,bahkan menjadi kelihatan tak berpandangan jauh mengingat bahwa Debussy seusai menyaksikan sajian gamelan pada Exposition Universelle di Paris 1889, kemudian membuat komposisi dengan skala pentatonik. Dua puluh tahun setelah turunnya tulisan J.A. Dungga dan L. Manik munculah pula Harry Roesli dengan sudut pandang yang sama sekali berseberangan. Sekira tahun 1971-73an Harry Roesli mulai membuat proyek “Titik Api,” sebuah upaya kreatif yang menggabungkan gamelan (degung) dengan musik funky dan rock. Hasil kreasi Harry Roesli dan kawan-kawan diproduksi dalam bentuk kaset oleh majalah musik “Aktuil” pada tahun 1976. Peluncuran kaset “Titik Api” ditandai dengan sebuah diskusi musik di Gelanggang Generasi Muda – Bandung, tampak hadir di sana sebagai pembicara adalah Harry Roesli, Remy Sylado, dan (jika tak salah) Nano S. Salah satu pernyataan Harry Roesli yang terasa penting kita ungkap kembali di sini adalah “bagi saya gamelan itu tak lain sebagai alat seperti halnya gitar, piano, atau alat musik lainnya… sebagai alat (musik) maka sesungguhnya gamelan itu bisa digunakan untuk memainkan apapun, bisa dimainkan untuk Kebo Jiro atau pun rock ‘n roll.”
Berdasar satu kejadian “Gentono” dan satu pemikiran “Titik Api” Harry Roesli, rasanya itulah awal mula kesadaran yang kemudian terjadi di mana-mana hingga menemukan terminologinya yang disebut world music. Pelaku Gentono atau pun Harry Roesli, ketika itu, tentu saja tidak/belum mengatakan musiknya dengan istilah worldmusic, namun urat nadi pikirannya jelas sekali mengarah ke arah tersebut, yaitu semacam upaya menempatkan kesetaraan alat atau pun musikalitas di dalam suatu wujud musik baru.
World music dalam kategori umum memang diartikan sebagai musik global, termasuk ke dalamnya adalah musik tradisional atau musik rakyat (folk music) dari suatu kebudayaan sehingga berkait atau mencerminkan musik di suatu wilayah dengan ciri kedaerahannya, dan kemudian oleh sebuah kenyataan serta pola pergaulan baru (global) maka memungkinkan musik tradisi tersebut mengalami kesetaraan serta bersinggungan dengan tradisi-tradisi di luar dirinya.
Terminologi
Wacana yang kemudian menjadi world music kali pertama dikemukakan pada tahun 1960an oleh Robert E. Brown, etnomusikolog dari Universitas Wesleyan, Connecticut, AS. Saat itu, seperti juga terjadi pada Harry Roesli, baru muncul semacam gambaran umum dan/atau belum sampai kepada formulasi sebutan atau pun pengistilahnya. Semasa proses menempuh pendidikan, Brown mengundang lebih dari 12 penampil tamu yang berasal dari Afrika dan Asia, dan saat itu mulailah pula terjadinya sejumlah konser yang nantinya disebut world music. Sebagai terminologi, Brown mulai memperkenalkannya pada 1980an sehubungan dengan kebutuhan pengklasifikasian hingga tuntutan pasar industri musik bagi jenis musik ini, yang semula dikelompokan sebagai ragam musik non-Barat.
Di tanah air kita sendiri, hingga menjelang tahun 1980an telah bermunculan kecenderungan-kecenderungan lain seperti halnya yang terjadi pada Leo Kristi yang berlandas pada musik troubadour tapi juga mengakrabi musik-musik rakyat yang bahkan dari pedesaan kampung halaman kita; bisa diperhatikan pula sejumlah cara kerja (workshop) yang dilakukan oleh Sawung Jabo yang senantiasa mengaitkan diri dengan berbagai musik di berbagai pelosok; meski agak berbeda tapi tak bisa dilupakan bahwa pada tahun 1970an Slamet A. Syukur membuat komposisi angklung yang bahkan kemudian pada tahun 1975 mendapatkan penghargaan khusus dari forum musik kontemporer di Prancis; di Sumatra adalah pula Rizaldi Siagian yang rajin ke luar-masuk masyarakat pedalaman (antara lain Dayak Kalimantan) dan kemudian membuat komposisi-komposisi bersama masyarakat adat setempat; dalam jalur musik lain adalah usaha Guruh & Gypsi yang mencampurkan musik panggung hiburan dengan tradisi Bali. Pasca-1980an hingga kini, upaya melakukan ‘pergaulan baru’ di dalam konteks musik terasa kian bergairah. Adalah di antaranya upaya Hidayat Recording yang mempertemukan Bubi Chen (piano) dengan Mang Uking (kacapi dan suling). Lebih menggelegak lagi manakala musisi-musisi muda mulai bermunculan, kita lihat misalnya kemunculan Ade ‘Idea’ Rudiana, Ozenk Percussion, Krakatau Slendro Jazz Band, hingga kepada kecenderungan paling kini semacam Karinding Attack.
Pada percaturan global, diskusi-diskusi worldmusic pun kian hangat. Belakangan muncul pula sejumlah definisi tentang world music yang antara lain saling rujuk serta tak sedikit pula yang saling bertentangan. Satu di antaranya menyatakan worldmusic itu adalah "segenap musik apapun yang ada di dunia." Satu pihak lainnya merasakan terminologi tersebut sebagai terlalu meluas hingga kemudian justru menjadi tidak punya arti (meaningless). Ada juga yang mendefinisikan sebagai musik kombinasi antara gaya musik populer barat dengan salah satu atau lebih banyak genre musik non-barat yang termasuk ke dalamnya adalah musik rakyat (folk music) atau musik etnik. Namun bagaimanapun patut pula diakui bahwa world music itu sifatnya cenderung tidaklah eksklusif seperti halnya musik rakyat tradisional. Di dalamnya memang mereferensi bentuk-bentuk musik asali (indigenous) dari berebagai wilayah kebudayaan di dunia, tapi di dalamnya terdapat pula kecenderungan modern, serta terdapat pula potongan-potongan gaya musik pop.
Sementara bagi kita dengan mengingat peristiwa Orkes Gentono di Gedung Merdeka Bandung dan lahirnya “Titik Api” dari Harry Roesli, maka tak ragu lagi untuk mengatakan bahwa kota Bandung adalah bagian terpenting dari lahirnya genre musikal baru yang kemudian disebut worldmusic. Bersama itu semua tak pula bisa dilupakan bahwa kita pun sebelum dan di antaranya telah memiliki tradisi musik keroncong yang jelas merupakan genre musik dari hasil lintas-budaya (cross-cultures), seperti halnya juga tanjidor, hingga stamboel. ***
[Tulisan ini dimuat Harian Kompas Jabar, Rabu, 10 November 2010, Rubrik “Forum” hal D]
Senin, 01 November 2010
BALADA untuk BENCANA

Sebuah konser amal bertajuk BALADA UNTUK BENCANA akan digelar di BUMI SANGKURIANG Bandung Pada tgl 10 November 2010.
Konser ini selain sebagai ajang apresiatif juga akan digunakan sebagai sarana pengumpulanDonasi bagi korban Bencana Wasior, Mentawai dan Merapi melalui penjualan karya Puisi, Penjualan CD Kompilasi dan Kencleng. Pengumpulan Donasi ini di koordinasi oleh kawan kawan yang tergabung dalam SOKA ( Sokong Kawan).
Dalam Konser ini, selain Ferry Curtis and Friend sebagai Main Talent, juga dimeriahkan Band Balada CIKRUH yang baru terbentuk, CERMIN dan THE DALTONS BAND.
Acara ini terselenggara atas kerjasama BUMI SANGKURIANG COUNTRY & BALLAD COMMUNITY, HOTSPOT ART PRODUCTION, MELINDA HOSPITAL, SOKA, serta didukung oleh Komunitas Balada Bandung, Komunitas Country Bandung, Majelis Sastra, Laskar Panggung dan GIM. (Egi)
Jumat, 22 Oktober 2010
Sebuah Dedikasi untuk Sang Kreator Bandung
| | | |
| SEPUTAR INDONESIA Thursday, 21 October 2010 | |
| MESKI hujan terus mengguyur,namun alunan musik balada yang dibawakan oleh sejumlah musisi balada asal Kota Bandung membuat hangat suasana di Ballroom Bumi Sangkuriang. Pertunjukan musik Country and Ballad Community itu bertajuk Balada untuk Wawan Juanda. Sesuai judulnya,acara tersebut memang dibuat untuk mengenang sosok kreator asal Bandung yang telah berpulang yaitu Wawan Juanda, mantan President Republic of Enterteinment dan penggagas pelbagai festival serta pertunjukan di Bandung. Sejumlah musisi Kota Bandung seperti Mukti-Mukti, Ferry Curtis,Amy, Sisca Guzheng, kaiYa, Kapak Ibrahim, Egi Fedly, dan beberapa nama lainnya melantunkan lagu-lagu bertemakan Wawan Juanda. Penghormatan juga disampaikan dalam bentuk lain seperti pembacaan puisi. Puisi itu dari penyair/penulis Matdon, Jusef Laskar Panggung, dan sejumlah penyair dari Majelis Sastra Bandung.Pengunjung yang hadir juga disuguhkan pertunjukan teater dari Teater Laskar Panggung yang membawakan tema yang sama,tentang Wawan Juanda. Sebelum pertunjukan musik dimulai, acara diawali dengan penyerahan lukisan dan album kompilasi untuk keluarga Wawan Juanda. Album kompilasi dan lukisan tersebut diterima oleh adik almarhum, Dadang.Koordinator acara, Egi Fedly, mengatakan Balada untuk Wawan Juanda ini memang dibuat sebagai ungkapan terima kasih kepada almarhum.“Para seniman Bandung ingin mengungkapkan rasa terima kasih kepada tokoh yang juga berperan penting dalam dunia seni dan kreasi,”ujar Egi. Dia menambahkan,dari komunitas Country dan Balada sendiri memang memberikan karya kepada keluarga Wawan Juanda.“Ya ini memang keinginan kami dan juga kami diberi kesempatan oleh Bumi Sangkuriang untuk mengadakan acara ini.Acara ini sendiri sifatnya apresiatif,” jelas Egi yang sering berperan sebagai tokoh antagonis di layar kaca itu. Di mata Egi,Wawan Juanda adalah sosok inovator dan eksekutor andal.Meski,Egi belum pernah bertemu langsung dengan almarhum, namun dia sering mendengar cerita dan pengalamannya dari kerabat. “Agak menyesal juga belum sempat mengenal langsung,”ujarnya. Sementara itu, seniman dan juga sahabat Wawan Juanda,Mukti- Mukti, mengatakan Wawan Juanda adalah orang sederhana. “Dia adalah seseorang yang sangat mencintai kota kelahirannya, Bandung. Kami itu kalau ngobrol sering yang berbau politis dan juga obrolan seputar bagaimana membuat sesuatu yang lebih punya arti untuk Bandung,”ungkap Mukti-Mukti saat ditemui seusai dia tampil di panggung. Sebagai ungkapan kagum dan terima kasih serta penghargaan buat sahabatnya itu, Mukti-Mukti mendendangkan satu buah lagu bertajuk His Sky of Stage. Lagu ini pun sebelumnya sempat dia bawakan saat “Festival Bambu 2010” di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) beberapa waktu lalu. “Dalam kesempatan untuk tribute to Wawan Juanda pula,”tuturnya. (dinda wulandari) |
Kamis, 21 Oktober 2010
Catatan Malam Musik "Balada Wawan Juanda'


Cinta Itu - Musik Itu
Ketika video musik semacam 'keong racun' tiba-tiba meledak dan/atau mendapat pengakuan publik, ada dua hal sesungguhnya yang bisa kita lihat yaitu (1) dunia teknologi dan daya sebar informasi telah membuktikan kedigjayaannya dalam membentuk opini dan bahkan menyetir cita-rasa publik. Sihir informasi bahkan kebuktikan pula mampu membolak-balik atau paling tidak memburamkan batas-batas antara baik dan buruk, benar dan salah, bermutu dan tidak bermutu, dst.: dan (2) sadar atau pun tidak kita sadari bahwa saat itulah terjadinya keruntuhan tata nilai dan/atau media tempat beredarnya informasi telah menjadi dunia tanpa nilai. Terbukti bahwa seni artifisial, bersifat manipulatif, atau kasarnya tipu-tipuan (teknik lipsing) tak diperdulikan lagi sebagai dusta atau kebohongan melainkan diterima sengan suka cita.
Itulah dunia kita di dalam media (terutama televisi) saat ini, yaitu dunia yang sebagian besarnya adalah dunia artifisial atau dunia yang bukanlah kenyataan yang sebenarnya, melainkan dunia yang telah direkayasa, dikotak-katik, bahkan dijungkir-balik demi kepentingan tertentu yang terutama demi kepentingan berlipat-gandanya modal dan keuntungan.
Musik yang juga mendapatkan porsi cukup besar di dalam dunia informasi televisi dan kemudian internet, sebagian besarnya bisa dikatakan tak terbebas dan bahkan justru menjadi bagian dari dunia artifisial serta manipulatif tersebut. Fenomena 'keong racun' seperti disebutkan di awal tulisan, ini adalah salah satu bukti puncak kedigjayaan dunia informasi di satu sisi, di sisi lainnya adalah bukti keruntuhan dimensi dan apalagi kedalaman musikalitas.
Di penghujung lainnya maka sesungguhnya sulit (untuk tidak mengatakan sama sekali tidak ada) bagi kita untuk mendapatkan nilai-nilai di dalam televisi dan internet sebagai salah satu penghantar informasi, yang ada adalah lautan atau gelombang yang bertumpuk, tumpang tindih, saling desak hingga saling banting antara satu simulacum dengan simulacrum lainnya.
Lantas, kita pun mungkin selanjutnya bertanya; di manakah kiranya tempat hadirnya musik yang masih memperlihatkan dan memperdengarkan alamiahnya? Di manakah tempat kita masih bisa menemukan kehangatan cinta antar-sesama manusia?
Jawabnya, ada banyak musisi, kelompok, atau komunitas musik yang beredar di luar televisi dan sofistikasi informasi. Di antara mereka itu tidak anti-informasi dan tidak pula anti-televisi, tapi galibnya tidak memberhalakannya dan/atau mengagungkannya secara berlebihan. Mereka lebih memilih ruang-ruang yang alami, ruang tempat bertemunya hubungan antar-manusia, tempat saling bersapanya dunia bunyi sekaligus keheningan.
**
Peristiwa musikal yang bertajuk "Balada Wawan Juanda" yang berlangsung Rabu malam, 20 Oktober 2010, di Bumi Sangkuriang adalah salah satu dari sekian banyak 'ruang' yang dihubungan oleh hati dan cinta tersebut.
Seperti halnya ruang tempat makan, kafe sederhana, sedikit lahan komunitas, bahkan kini banyak pula musik (bagus) yang bertebar di trotoar jalanan; malam itu tampilah dengan bersahaja tapi penuh kehangatan cinta sekaligus daya musikalitas hingga teatrikalitas berupa monolog dari Yusef Muldiyana, permainan biola Amy Chepy Kurniawan yang saling hantar dengan pembacaan puisi Kyai Matdon, duet Mukti-Mukti dan Siska, Komunitas Musik Jatiwangi Art Factory, Rizal Abdulhadi, Laskar Panggung, Matdon & Majelis Sastra Bandung, tampilan Ferry Curtis (bersama Ary Viool, Amy), Kapak Ibrahim, Tiga Perempuan (Ken Atik, Vinny Damayanti, Ine Arini), Ganjar Noor, KAiYA, Martha Topeng & Siska, Duo Cermin, dan ditutup penampilan Egi Fedli yang ditemani Ary Viool, Adi, serta Siska.
Selama tak kurang dari empat jam, publik yang hadir hampir sepenuhnya dijamu musik-musik balada yang bisa dikatakan sepenuhnya pula tak pernah kita jumpai di televisi kecuali di komunitas-komunitas. Tapi di sini pula kita bisa menyaksikan kepiawaian Amy bermain biola adalah kepiawaian yang niscaya, nyata, dan bisa disentuh tubuhnya kala main atau pun seusai ia bermain. Nomor "song of the wind" yang dirangkai dengan puisi Matdon dan ditutup dengan salah satu nomornya Didier Lockwood, itu terasa sekali sebagai mana requiem yang malam itu memang ditujukan bagi almarhum Wawan Juanda.
**
Musik balada sebagaimana lazimnya musik bertutur, musik yang juga bersandar kepada kekuatan kata-kata selain musikalitasnya itu sendiri; kemudian meluncurlah dari Mukti-Mukti. Seperti juga penampil-penampil lain semisal Ferry Curtis, Ganjar Noor, Egi Fedli; kekuatan lirik pada musik Mukti-Mukti terasa sekali bukan sekadar syair tempelan melainkan sesusunan struktur kata-kata yang jika dilepas dari musiknya pun bisa berdiri sendiri sebagai puisi dengan daya puitikanya.
Ini pula yang hampir tak bisa kita temukan lagi pada musik-musik sajian televisi atau pun kategori musik industri lainnya. Pada musik dan lirik yang malam itu mereka mainkan, sungguh kita masih bisa menemukan nilai, rasa betapa mulianya kata-kata, hingga kita (sebagai penonton/pendengar) bisa membangun kembali impresi bahwa betapa mulianya kita menjadi manusia. Lirik dan musik balada yang 'kuat' tersebut antara lain bisa pula kita jumpai pada nyanyian "Sahabat Cahaya" dan "Ilalang Terbakar"nya Ferry Curtis, lirik balada dengan sentuhan warna musik psychedelic terasa pula pada nyanyian "Ini Langkahku" dan "Kemuning" yang dimainkan oleh kelompok KAiYA.
**
Pengagungan kepada musikalitas, lirik atau dunia kata-kata, serta sekaligus kebersahajaan keseluruhan acara, kemungkinan besar disadari serta dirasakan pula oleh seluruh yang hadir itu menjadi semacam hymne yang memang hendak disampaikan demi menghormati almarhum Wawan Juanda (1958-2010).
Sang presiden Republic Entertaintment itu memang telah pergi, tapi malam itu pula masih dirasakan kehangatan, cinta, dan persahabatannya dengan sejumlah seniman Bandung. "Semangat almarhum sepatutnya kita lanjutkan," ujar Dadang Jauhari, adik almarhum Wawan Juanda, di awal hymne yang ternyata berlangsung sampai lebih dari empat jam tersebut.
Sepertinya kita pun menyaksikan Wawan Juanda tersenyum di alam sana, alam yang sudah terbebas dari dunia artifisial, alam tanpa kepura-puraan, alam harum mawar yang disertai lagu cinta kawan-kawannya.***
Senin, 04 Oktober 2010
Balada untuk Wawan Juanda
Sebuah T
ribute untuk Almarhum Wawan Juanda, President Republic of Enterteinment Penggagas pelbagai festival dan pertunjukkan di Bandung, yang meninggal dalam usia52 tahun, President Republic of Entertainment itu menghembuskan nafas terakhir di RS Rajawali Bandung pada hari senin 5 juli 2010 sekitar pukul 23.00 WIB. Wawan Juanda meninggal karena ada penyempitan pembuluh darah di jantung.Selama 20 tahun, almarhum berkecimpung di dunia pertunjukkan dan festival di berbagai daerah. Di Bandung, misalnya, Wawan menjadi penggagas beragam acara yang melibatkan masyarakat banyak dan sejumlah artis serta band. Beberapa idenya tertuang dalam bentuk Braga Festival, Bambufest, Spicefest, Batik Festival, dan Dago Walking Day.
Kepergian Wawan mengejutkan keluarga dan semua rekannya kalangan budayawan, seniman, dan wartawan. Tak ada yang menyangka pria kelahiran Bandung, 5 Desember 1958 akan pergi begitu cepat. Sebab selama ini tidak ada penyakit serius yang dideritanya.
Wawan bisa dikatakan sebagai peletak pondasi industri kratif di Kota Bandung. Ia mempelopori dunia event organizer sebagai salah satu penggerak utama industri kratif. Ia menjadi salah seorang pendiri Bandung Creative City Forum (BCCF). Berbagai karyanya langgeng sebagai ikon Kota Bandung. Sebut saja Dago Festival, Braga Festival, Cikapundung Festival, Festival Musik Bambu, Dago Walking Day dan masih banyak lagi karya-karyanya. Yang jelas ia tak pernah jauh dari budaya dan lingkungan Kota Bandung. "Kota Bandung harus bangga karena punya orang seperti Wawan," kata seniman Tisna Sanjaya.
Wawan, anak sulung dari delapan bersaudara ini pergi dengan membawa berjuta angan-angan, krativitas dan cita-citanya. Ulang tahun Kota Bandung ke-200 ialah agenda besarnya tahun ini sebagai wujud cintanya pada kota ini. Kewajiban kita semua melaksanakan cita-citanya. "Selamat jalan Kang Wawan". (Bahan Tempo Interaktif dan Pikiran Rakyat)
Tribute bertajuk BALADA UNTUK WAWAN JUANDA, akan digelar di BUMI SANGKURIANG Bandung tgl 20 Oktober 2010.
Sejumlah Pemusik Balada Bandung mulai dari Mukti-Mukti, Ferry Curtis, Ganjar Noor, Sisca Guzheng, Egi Fedly, kaiYa, Cermin, Ammy 4Peniti, Kapak Ibrahim, Ary Tretura, Martha Topeng, Rizal Abdulhadi, Empat Perempuan, Tedi En, Tjepi Peg... akan mempersembahkan kompilasi lagu2 tentang Wawan Juanda untuk Keluarga Wawan Juanda dan sebagai ungkapan rasa terimakasih atas dedikasi almarhum terhadap pergerakan kesenian di Bandung khususnya dan Indonesia pada umumnya....
Kyai Matdon, Jusef Laskar Panggung dan sejumlah Penyair dari Majelis sastra Bandung tak ketinggalan akan mengungkapkan rasa kagum dan terima kasih kepada Almarhum melalui Pembacaan Puisi....untuk salah satu tokoh besar Kesenian Bandung ini.
Sunday Screen sebuah komunitas Audio Visual di kota Bandung akan mendokumentasikan acara ini.
Acara ini, merupakan Project pertama dari rancangan bentuk pementasan rutin setiap bulan kedepannya pada setiap hari rabu minggu ketiga yang akan digelar di BUMI SANGKURIANG Bandung, Sebagai bentuk acara bagi kegiatan KOMUNITAS COUNTRY & BALADA BUMI SANGKURIANG. Kerjasama ini dijalin antara Hotspot Art Production, Bumi Sangkuring, Melinda Hospital dan Egi Fedly ( Countrykuring Project) yang bertindak sebagai Koordinator acara Balada untuk wawan Juanda ini. (Egi F)
Deu Galih

Setelah di tahun 2009 kemarin merilis box-set bertitel Wonderful Journey yang berhasil menggugah banyak orang, kini di tahun 2010 ini solois neo-folk asal Bandung, Deu Galih kembali mengeluarkan rilisan bermutu dan pastinya, gratis!
Rilisan terbaru dari Deu Galih kali ini adalah sebuah EP kompilasi yang berisi rekaman-rekaman out-take dari sesi Siluet EP (2007); yang mana materi-materi dari Siluet EP juga masuk di CD 4, box-set Wonderful Journey (2009). EP kompilasi ini diberi titel Siluet: B-Sides.
Siluet: B-Sides berisi dua lagu, plus sebuah bonus-track yakni “Salam Matahari (2nd version)” yang mana versi pertamanya akan masuk sebagai soundtrack dari buku ‘Salam Matahari’ oleh Sundea. Tidak seperti materi-materi di Siluet EP yang aransemennya lebih ramai, rekaman-rekaman di Siluet: B-Sides lebih stripped-down & lebih minimalis, tapi tentunya tetap memiliki daya majis dan kharisma khas Deu Galih. Mungkin karena itulah, mengapa bulu kuduk kami selalu berdiri setiap menonton penampilan dari Deu Galih… Ya, seni yang berhasil adalah seni yang bisa menggugah orang-orang. Itulah alasan mengapa kami, Wasted Rockers, memohon kepada Deu Galih agar merilis materi-materi ini. Mentah tapi tetap indah, ya, ibarat berlian yang belum diasah! Begitulah perumpamaan kami atas materi Siluet: B-Sides. Tidak percaya? Silahkan unduh untuk membuktikannya!… - Dede
Deu Galih
Siluet EP: B-Sides
Tracklist:
01. Kembali Sepi [hening]
02. Anak Sungai
03. Salam Matahari (live joking)
Deu Galih / vocal & guitar
Guest musician:
- J.Kondoi / backing-vocal & joking on track 3
- Track 01 oleh Galih Su, 3 Januari 2010. Direkam Live di EvenFlow Studio, dengan bantuan Indra & Gabriel Gunawan pada 5 Januari 2010.
- Track 02 oleh Galih Su, 2 Januari 2008. Direkam Live di EvenFlow Studio, 5 Januari 2010.
- Track 03 oleh Galih Su, 7 Oktober 2007. Direkam live menggunakan mp3-player di perpustakaan Galih bersama Kondoi, Oktober 2009.
Album cover by: Deu Galih
Project coordinator: Dede
Release date: June 2010
Contact & corresspondence:
Phone: 085624533425 (Deu Galih)
E-mail: deugalih@yahoo.com
URL: www.myspace.com/deugalih
Rizal Abdulhadi

JAKARTA: Penyanyi baladis muda Rizal Abdulhadi menyakinkan bahwa dirinya akan berjuang untuk mengibarkan kembali bendera “Folk” dalam jagad musik Indonesia. Demikian disampaikan Rizal Abdulhadi saat melaunching album barunya di Newseum, Jakarta, Selasa (24/8). Melalui album baru ini, Rizal Abdulhadi mengankat 5 lagu, antara lain, “Inilah aku”, “Bung Desa”, “Mari Menari Petani”, “Tertidur Nyenya”, dan “Di Balik Jendela”. Di bagian pembuka acara, Rizal Abdulhadi tampil memukau dengan menyanyikan dua lagu, dan ditemani irama flute dari A. Vincent dan violin oleh Read Violin. Launching ini juga ditandai dengan diskusi yang menghadirkan tiga orang komentator, yaitu pengamat musik Denny Sakrie, musisi reggae Ras Muhamad, dan musisi folk Deu Galih. Menurut Denny Sakrie, kehadiran Rizal Abdulhadi merupakan fenomena langka dalam kancah musik Indonesia yang sedang didominasi oleh warna musik yang seragam, karena berusaha keras untuk menampilkan jenis dan bentuk yang berbeda, orisinil, dan berbau kritik sosial. “Ada banyak musik yang sangat bagus dan berkualitas, namun diabaikan oleh musik mainstream,” ujarnya. Terkait perjuangan Rizal Abdulhadi dalam mengibarkan kembali bendera folk sendirian, Denny mengingatkan, bahwa musisi seperti Leo Kristie pun pernah melakukan kesulitan yang serupa, dimana ia mengibarkan musiknya yang nasionalistis dari pinggiran menjadi diakui banyak orang. Sementara itu, Deu Galih, musisi folk asal Bandung, mengingatkan bahwa musisi merupakan ekspresi kebebasan dari seseorang. Terakhir, musisi reggae Ras Muhamad menyambut baik pemunculan album baru Rizal Abdulhadi sebagai seorang musisi yang kritis dan kerakyatan. Bagi Ras Muhamad, sang duta reggae Indonesia ini, musik Rizal punya kekuatan dari segi lirik-liriknya yang mengangkat realitas atau kenyataan di masyarakat kita. “Balada punya lirik yang sangat kuat, dengan ejaan yang sesuai dengan bahasa Indonesia. Tidak nyeleneh seperti kebanyakan lirik lagu mainstream. Karena itu, kita harus mendukung Rizal membangkitkan kembali lagu balada ini,” katanya. Indonesia pernah punya nama-nama besar dalam musik balada, antara lain, Franky Sahilatua, Harry Roesli, dan Iwan Fals. Diharapkan, melalui kemunculan Rizal Abdulhadi, dengan cara mewarnainya tersendiri, akan sanggup mengibarkan kembali musik folk Indonesia yang lebih kreatif, orisinil, dan memihak rakyat. (Ulf) http://berdikarionline.com/suluh/20100824/launching-album-baru-rizal-



Arti "World Music" bagi Bandung