Kamis, 17 September 2009
Selasa, 15 September 2009
Baby Astheria: “Country Perjuangan..”
Baby Astheria adalah penyanyi muda berbakat yang mengambil country sebagai nafas dalam kehidupan bermusiknya. Kenal, suka, dan langsung mencintai country membuat Baby terus berjuang agar musik country bisa diterima dan sejajar dengan genre pop, rock, dan R&B. Meski albumnya belum kunjung dirilis, Baby tetap semangat membawa country ke manapun langkahnya berpijak. Ini dia petikan wawancara Blahbloh dengan mojang Bandung yang lahir pada 24 Januari 1983 ini. Apa kabar? Senang bisa kenal sama Baby..
Baik, senang juga bisa ngobrol sama Blahbloh dan berbagi..
Dari kapan kamu mulai terjun ke nyanyi?
Kalo nyanyi sih dari kecil. Tapi untuk serius dan mulai profesional sebagai penyanyi sejak SMA, usia 16 tahun-an lah.
Saat itu sudah mulai nyanyi country?
Oh belum. Awalnya saya membentuk band cewek, namanya Eleven O’C Female Band. Dari situ saya belajar banyak genre musik mulai dari blues, rock, country, latin, sampai klasik. Nah itulah awal saya jatuh cinta sama country. Sekitar tahun 2000-an lah.
Apa yang buat Baby jatuh cinta sama country?
Pertama umumnya orang bilang kalau tak kenal maka tak sayang. Dan dari kenal kita bisa jadi suka, dari suka terus sayang, lalu jadi cinta. Dari awal saya dengar musik country tuh simpel, liriknya dalam, dan ceritanya dekat dengan alam, nature, terus country itu juga jujur. Tapi yamg pasti karena simpelnya. Simpelnya itu bukan berarti gampang dinyanyikan. Di balik kesederhanaanya itu ada sesuatu yang besar yang saya rasakan. Itu yang bikin saya suka.
Wah dalem banget ya filosofinya..
Ha ha ha ha ha…
Tapi, di Indonesia musik country ‘kan kurang banyak peminatnya. Sekalinya ada kebanyakan orangtua. Gimana tuh?
Di Indonesia country memang belum cukup popular. Dalam artian nggak banyak yang tahu kalau country itu ternyata banyak jenisnya. Dan nggak cuma disukai sama orangtua saja, tapi anak muda juga. Di Amerika sana, kemasannya sudah keren banget. Dicampur sama rock, R&B, pop, malah sampai disco. Dan balik lagi pada prinsip kalau tak kenal maka tak sayang itu, makanya nggak suka. Dan pada saat kita tahu ada kemugkinan kita suka.
Sebagai penyanyi country ada usaha nggak buat memperkenalkan country di sini?
Ada banget, dan perjuangannya ternyata nggak gampang.
Karena stigma yang bilang country itu musiknya orangtua?
Betul banget. Padahal nggak kayak gitu, seperti yang saya jelasin tadi. Dan karena sudah tahu beberapa jenis country, saya berusaha memperkenalkan jenis-jenisnya itu.
Caranya?
Dengan membuat karya lagu country. Juga acara-acara musik di teve-teve. Saya pernah sama mas Tantowy [Yahya-red] bikin acara country di Metro TV, TVRI, dan teve lokal Jabar, namaya “Let’s Rock This Country”. Dan ternyata sambutannya cukup meriah. Yang terakhir acaranya masih jalan sampai sekarang.
Musisi country favoritnya siapa?
The Eagles, Shania Twain, Sheryl Crow.
Musik country enaknya didengerin kalau kita lagi ngapain?
Dengerin biasa juga sudah enak, kayak lagu pop aja. Ada beberapa lagu yang enak didengerin sambil perjalanan.
Suka dukanya dalam memperkenalkan lagu country apa?
Dulu waktu masih sama band kami menyanyikan country tradisional, yang konvensional. Di situ ‘ditabrak’. Banyak orang yang nggak setuju. Biasa lah, pro dan kontra. Karena waktu itu kami tampil tanpa atribut country sama sekali. Pakai celana jeans robek dan sepatu kets. Yang kami bawain juga lagu-lagu pop tapi kemasannya country. Karena mereka pikir nyanyi country harus beratribut country full dari atas sampai bawah. Sebenernya nggak harus begitu. Tapi lebih ke musiknya. Tampilannya ‘kan bisa gimana aja.
Berarti udah punya album atau lagu country dong..
Album sudah sign kontrak sama Sony. Singel juga sudah keluar tapi masuk dalam album kompilasinya Dewiq yang The Hits Maker, judulnya “Happy Ending” lagunya diciptain Dewiq, aransemennya country. Belum dipromosiin, tapi saya nggak mau berharap ke major label, jadi jalan sendiri saja. Mungkin major belum terlalu percaya sama country.
Terus albumnya gimana?
Sebenernya album sudah siap, tapi belum tahu keluarnya kapan. Di album itu ada 11 lagu. Delapan lagu ciptaan saya, dua dari Dewiq, satu lagi dari musisi lain. Jadi mungkin ke indie saja kali.
Wah berjuang sendiri lagi dong..
Ya nggak apa-apa. Sekarang saya sama manajemen berpikir untuk bangun kaki sendiri. Jalan dengan apa yang kami punya. Apalagi kerjasama sama major udah selesai. Lagi cari kemasan yang fleksibel dan lebih bisa diterima.
Kalau Baby lagi manggung selalu bawain lagu country?
Musiknya iya. Tapi kalau lagu nggak harus country. Seperti lagu Letto, “Ruang Rindu”, yang nge-pop banget, saya aransemen dengn sedikit country. Saya juga pernah bikin lagu “Radja”-nya /rif jadi country. Dan saya berhasil bikin Audy membawakan lagu country. Audy bilang, ‘Gila banget!’. Dia senang sekali. Dan ternyata orang-orang juga antusias nerimanya.
Wah keren banget tuh.. Susah nggak aransemen ulang kaya gitu?
Nggak mudah, tapi bisa kok. Pertama kita harus punya pengetahuan country tuh seperti apa. Lagu kan nggak bisa seenaknya dirombak, bisa jadi nggak enak. Di situ saya perlu pasukan untuk melakukanya, di samping pengetahuan saya. Dengan didukung partner kerja yang cocok, semua pasti jalan. Makanya sekarang saya lagi bentuk pasukan supaya orang bisa lihat kalau country ada yang seperti ini. Pasukannya masih rahasia.
Kalau boleh berandai-andai, maunya country nanti seperti apa di Indonesia?
Bisa diterima tanpa ada lagi batasan. Saya yakin nanti country akan bisa diterima. Karena sekarang menurut saya musik kita lagi stagnan, itu-itu saja. Hingga satu titik nanti orang akan jenuh. Bukan jenuh karena musiknya yang nggak bagus, tapi ingin mencari sesuatu yang berbeda. Nah, di situ mungkin akan muncul musik seperti country, blues, dan lainnya. Tapi usaha memperkenalkannya harus mulai dari sekarang.
Ada lagi?
Kalau karya sudah jelas. Tapi di luar itu saya ingin ke industrinya juga. Jadi saya tidak cuma mengeluarkan karya tapi juga mengeluarkan talent-talent. Nggak harus country, tapi lebih baik kalau bisa country. Atau paling tidak menularkan. Minimal cara berpikir dan musiknya ke talent-talent baru.
Iya deh, semoga semuanya berjalan sesuai keinginan Baby. Terus berjuang ya..
Pastinya, dan nggak akan pernah berhenti.. ●
[teks: Fai Alrasyid ][foto: Aditya Oktavirmana]
Sumber www.Blahboh.com
Minggu, 13 September 2009
Country Kuring: Album Kompilasi Country Gaya Kuring
[Windi]
Catatan baru dalam pergerakan musik country di tengah-tengah komunitas country Bandung. Setelah hanya berupa “endapan” mimpi yang masih belum direalisasikan, sebuah konsep project album kompilasi country coba ditawarkan untuk para musisi country Indonesia.
Project album yang diberi title "Country Kuring" ini hadir dengan konsep sederhana, yang intinya adalah memajukan pergerakan musik country Indonesia dengan menyertakan karya cipta dalam album indie. Mengemas karya dalam sebuah album, sebenarnya memang menjadi keinginan sejati bagi para musisi country Bandung. Kali ini, Egi Fedly hadir sebagai penggagas konsep agar keinginan itu benar-benar mampu menjadi sesuatu. Egi juga mengungkapkan, Country Kuring yang berkonotasi sebagai ungkapan “Ini Musik Country Gaya Kuring” merupakan sebuah semangat yang mengacu kepada kebebasan berekspresi dan kreatifitas dalam membawakan musik country tidak terpaku pada pakem.
Walaupun diawali dengan konsep sederhana, bukan berarti project ini main-main. Beberapa kali pertemuan sudah dilakukan di Jalan Purnawarman No.8, Bandung. Dimulai dari obrolan pematangan konsep secara teknis, sampai sebuah wacana project ini nantinya tidak akan stop at one a
ction, akan muncul album-album kompilasi country berikutnya yang membawa karya-karya original para musisi country.
Respon positif berupa dukungan moril dan kesiapan untuk ikut serta dalam project ini akhirnya muncul dari para musisi-musisi country seperti The Daltons, Adjie Jacksons, Joe Arkansas, Ditto Ditty, Ary Juliyant, Egi and The Good Fellas, Ato Baramaen, Bubung, Rull & The Undercovers, Agus Hikmat, Harry Pochang, Yuki Yuwono, Romzy Alketerie, dan Yayan Rodeo. Tentunya masih banyak musisi yang ditunggu campur karyanya dalam album kompilasi ini.
Di awal catatan hingga sekarang, musisi country di Indonesia khususnya di Bandung itu ada banyak dan bagus. Rasanya memang sayang kalau tidak ada moment bagi mereka untuk menunjukan dedikasinya lewat karya-karya yang original.
Minggu, 23 Agustus 2009
Kamis, 20 Agustus 2009
Yihaaaa Puasa
Rabu, 19 Agustus 2009
Jumat, 14 Agustus 2009
Konser Gerilya Ary Juliyant

[uncluster/Bandung]----30 album mungkin bisa dibilang sebuah bukti dari produktifitas dan konsistensi seorang Ary Juliyant. Dia memulainya di tahun 80-an dengan menyebarkan karyanya lewat jalur independen, dan sampai sekarang Ary, musisi yang lahir di Bandung tahun 1964 ini masih tetap produktif, dengan konser gerilyanya yang selalu hadir di setiap komunitas seni dan budaya, dan di sela kesibukannya, dia bersedia berkunjung ke kantor redaksi untuk berbagi kabar.
uncluster: Kenapa menjatuhkan pilihan kepada balada?
Ary Juliant: Mungkin sudah takdir ya, hahaha.. karena bagi saya, selain menarik balada punya pesan juga manfaat untuk disampaikan kepada masyarakat.
uncluster: Apa kira-kira pesan yang terkandung dalam karya Anda?
Ary Juliant: Saya kira untuk pesan di musik balada yang saya mainkan banyak ya, mulai dari alam, politik dan yang lainya. Yang menurut saya itu sehat.
uncluster: Harus kemana jika orang mau membeli karya Anda?
Ary Juliant: Memang susah ya, karena tidak di setiap toko kaset atau CD yang menjual karya saya, dan sayapun hanya menitipkan pada beberapa toko saja. Tapi biasanya jika orang yang berminat biasanya langsung menghubungi saya.
uncluster: Kalau dijumlahkan ada berapa total karya Anda?
Ary Juliant: Saya sudah membuat sekitar 30 album, atau kurang lebih 170 lagu
uncluster: Apa tema yang dominan dari seluruh karya Anda?
Ary Juliant: Tema yang banyak saya angkat dalam karya saya adalah kritik sosial dan alam, mungkin karena saya sedari dulu selalu tertarik dengan hal itu
uncluster: Dalam membuat lagu mana yang lebih penting musik atau lirik?
Ary Juliant: Bagi saya adakalanya musik harus utama, dan adakalanya pesan-lah yang utama, Semua itu serba tergantung. Tetapi intinya bagi saya dua-duanya adalah penting dan tidak bisa dipisahkan.
uncluster: Penyanyi balada Indonesia yang mempengaruhi Anda?
Ary Juliant: Dede Haris, Uli Sigar dan Leo Christy ketiga musisi itu sangat berpengaruh bagi saya
uncluster: Jelaskan sedikit tentang Dede Haris!
Ary Juliant: Dede Haris adalah seorang yang saya hormati, dia bukan hanya idola bagi saya saja, tetapi dia juga adalah guru bagi saya, mungkin bagi musisi lainya juga. Saya masih ingat waktu itu juga Iwan Fals pernah berkata dalam sebuah wawancara jika Dede Haris adalah guru bagi dia.uncluster: Apa pendapat Anda tentang industri musik Indonesia yang tidak terlalu merespon jenis musik yang seperti Anda mainkan?
Ary Juliant: Mungkin musik yang saya mainkan ini tidak akan menjadi no.1 di industri, tapi saya berpendapat jika musik saya tidak akan pernah mati juga, dan bagi saya industri itu harus punya hati nurani karena saya melihat di sini ada kecenderungan hanya memikirkan uang semata, dan tidak memikirkan dampaknya. Mereka hanya memikirkan selera pasar, yang membuat saya bingung di sini adalah pasar yang mana, dan masyarakat yang mana, mereka tidak mau membuka diri untuk sesuatu yang dianggap lain. Saya memilih indie ketika saya sadar jika di luar sana banyak orang yang antusias terhadap karya saya dan label tidak merespon.
uncluster: Menurut anda apa promosi yang paling efektif untuk karya Anda?
Ary Juliant: Mungkin setiap musisi yang sama dengan saya mempunyai cara masing-masing, dan saya memilih dengan membuat program kerja lewat media, jaringan dan produksi dengan tujuan untuk menguatkan link konser gerilya yang lumayan cukup lama telah saya lakukan untuk mengenalkan karya- karya saya.
Bahan : Uncluster
Kamis, 13 Agustus 2009
Rakon 2
RAKON DUA....atawa Rapat Konsolidasi kedua dilaksanakan hari Rabu 12 agustus 2009, di Bluegrass Cafe, Hadir Saya, Kang Alih, Kang Bubung, Kang Agus Hikmat, Kang Aduy Tikalika, Babe Wawan, Kang Deny Basky, Kang Ade Laken, Kang Tyo, Kang Angka Budiman, Kang Yayan Rodeo, Abah Donny, KangTatang, Kang Adjie Jackson, Kang Benny, Kang Hendra sementara Kang Harry Pochang, Abah Goem2, Kang Yogi, Kakek pow, Kang Agus Jolali, Kang Iwan Dukun, Kang Ato Baramaen, Kang Nizar berhalangan hadir...karena satu dan lain hal yang berkaitan dengan tugas Negara....Dan seperti biasa Ary Juliant mengikuti lewat telpon dari lombok....Kang Ary Tretura 'Beurit' datang setelah RAKOR DUA usai.....anyway nuhun.......Pembahasan seputar perkembangan Jumlah kepesertaan dan usulan dari teman teman tentang masalah tehnis recording dan usulan sistematis yang lebih baik, maupun masalah yang berkaitan dengan langkah langkah yang akan dan harus ditempuh....
Kang Alih berharap Konsistensi dan konsekwensi Team dari Project ini betul betul diperhatikan hingga tidak berhenti hanya di satu album...
kang Aduy menawarkan sistem distribusi, Disain Cover dan duplikasi....
Kang Ade Laken mengusulkan sistem Recording satu Studio untuk mencapai kualitas standart Rekaman yang sama, namun mengingat untuk kali ini beberapa Kelompok sudah memiliki MASTER, usulan itu disiapkan untuk penggarapan album berikutnya....
Kang Angka Budiman yang secara jantan pulang kerja dari Cikampek bersama Abah Donny langsung menuju Cafe Bluegrass, meminta kelonggaran/perpanjangan waktu penyerahan karya....dan mentraktir semua teman.....nuhun ah.....
Saya Sendiri mengharapkan dalam Album CountryKuring ini ada sebuah karya KOLABORASI yang melibatkan seluruh peserta.....tentu saja Kita perlu sebuah lagu yang special diciptakan untuk ini....mungkin Kang Alih bisa menyiapkan lagunya.....hehehe nembak euy
Sementara di pojokan ada Fans Bebek Gureeeh yang duduk memperhatikan dan mencatat semua pembicaraan secara diam diam sambil tetap makan Bebek Gureeeh.....
